Selasa, 13 Agustus 2013

Perkembangan Teori Stuktural Fungsionalis

Perkembangan Teori Struktural Fungsional Fungsionalisme menjadi teori yang dominan dalam perspektif sosiologi. Teori fungsional menjadi karya Talcott Parsons dan Robert Merton dibawah pengaruh tokoh – tokoh yang telah dibahas diatas. Sebagai ahli teori yang paling mencolok di jamannya, Talcott Parson menimbulkan kontroversi atas pendekatan fungsionalisme yang ia gulirkan. Parson berhasil mempertahankan fungsionalisme hingga lebih dari dua setengah abad sejak ia mempublikasikan The Structure of Social Action pada tahun 1937. Dalam karyanya ini Parson membangun teori sosiologinya melalui “analytical realism”, maksudnya adalah teori sosiologi harus menggunakan konsep-konsep tertentu yang memadai dalam melingkupi dunia luar. Konsep-consep ini tidak bertanggungjawab pada fenomena konkrit, tapi kepada elemen-elemen di dallamnya yang secara analitis dapat dipisahkan dari elemen-elemen lainnya. Oleh karenanya, teori harus melibatkan perkembangan dari konsep-konsep yang diringkas dari kenyataan empiric, tentunya dengan segala keanekaragaman dan kebingungan-kebingungan yang menyertainya. Dengan cara ini, konsep akan mengisolasi fenomena yang melekat erat pada hubungan kompleks yang membangun realita sosial. Keunikan realism analitik Parson ini terletak pada penekanan tentang bagaimana konsep abstrak ini dipakai dalam analisis sosiologi. Sehingga yang di dapat adalah organisasi konsep dalam bentuk sistem analisis yang mencakup persoalan dunia tanpa terganggu oleh detail empiris. Sistem tindakan diperkenalkan parson dengan skema AGILnya yang terkenal. Parson meyakini bahwa terdapat empat karakteristik terjadinya suatu tindakan, yakni Adaptation, Goal Atainment, Integration, Latency. Sistem tindakan hanya akan bertahan jika memeninuhi empat criteria ini. Dalam karya berikutnya , The Sociasl System, Parson melihat aktor sebagai orientasi pada situasi dalam istilah motivasi dan nilai-nilai. Terdapay berberapa macam motivasi, antara lain kognitif, chatectic, dan evaluative. Terdapat juga nilai-nilai yang bertanggungjawab terhadap sistem sosoial ini, antara lain nilai kognisi, apresiasi, dan moral. Parson sendiri menyebutnya sebagai modes of orientation. Unit tindakan olehkarenaya melibatkan motivasi dan orientasi nilai dan memiliki tujuan umum sebagai konsekuensi kombinasi dari nilai dan motivasi-motivasi tersebut terhadap seorang aktor. Karya Parson dengan alat konseptual seperti empat sistem tindakan mengarah pada tuduhan tentang teori strukturalnya yang tidak dapat menjelaskan perubahan sosial. Pada tahun 1960, studi tentang evolusi sosial menjadi jawaban atas kebuntuan Parson akan perubahan sosial dalam bangunan teori strukturalnya. Akhir dari analisis ini adalah visi metafisis yang besar oleh dunia yang telah menimpa eksistensi manusia. Analisis parson merepresentasikan suatu usaha untuk mengkategorisasikan dunia kedalam sistem, subsistem, persyaratan-persyaratan system, generalisasi media dan pertukaran menggunakan media tersebut. Analisis ini pada akhirnya lebih filosofis daripada sosiologis, yakni pada lingkup visi meta teori. Pembahasan mengenai fungsionalisme Merton diawali pemahaman bahwa pada awalnya Merton mengkritik beberapa aspek ekstrem dan keteguhan dari structural fungsionalisme, yang mengantarkan Merton sebagai pendorong fungsionalisme kearah marxisme. Hal ini berbeda dari sang guru, Talcott Parson mengemukakan bahwa teorisi structural fungsional sangatlah penting.Parson mendukung terciptanya teori yang besar dan mencakup seluruhnya sedangkan parson lebih terbatas dan menengah. Seperti penjelasan singkat sebelumnya, Merton mengkritik apa yang dilihatnya sebagai tiga postulat dasar analisis fungsional( hal ini pula seperti yang pernah dikembangkan oleh Malinowski dan Radcliffe brown. Adapun beberapa postulat tersebut antara lain: • Kesatuan fungsi masyarakat , seluruh kepercayaan dan praktik sosial budaya standard bersifat fungsional bagi masyarakat secara keseluruhan maupun bagi individu dalam masyarakat, hal ini berarti sistem sosial yang ada pasti menunjukan tingginya level integrasi. Dari sini Merton berpendapat bahwa, hal ini tidak hanya berlaku pada masyarakat kecil tetapi generalisasi pada masyarakat yang lebih besar. • Fungsionalisme universal , seluruh bentuk dan stuktur sosial memiliki fungsi positif. Hal ini di tentang oleh Merton, bahwa dalam dunia nyata tidak seluruh struktur , adat istiadat, gagasan dan keyakinan, serta sebagainya memiliki fungsi positif. Dicontohkan pula dengan stuktur sosial dengan adat istiadat yang mengatur individu bertingkah laku kadang-kadang membuat individu tersebut depresi hingga bunuh diri. Postulat structural fungsional menjadi bertentangan. • Indispensability, aspek standard masyarakat tidak hany amemiliki fungsi positif namun juga merespresentasikan bagian bagian yang tidak terpisahkan dari keseluruhan. Hal ini berarti fungsi secara fungsional diperlukan oleh masyarakat. Dalam hal ini pertentangn Merton pun sama dengan parson bahwaada berbagai alternative structural dan fungsional yang ada di dalam masyarakat yang tidak dapat dihindari. Argumentasi Merton dijelaskan kembali bahwa seluruh postulat yang dijabarakan tersebut berstandar pada pernyataan non empiris yang didasarakan sistem teoritik. Merton mengungkap bahwa seharusnya postulat yang ada didasarkan empiric bukan teoritika. Sudut pandangan Merton bahwa analsisi structural fungsional memusatkan pada organisasi, kelompok, masyarakat dan kebudayaan, objek-objek yang dibedah dari structural fungsional harsuslah terpola dan berlang, merespresentasikan unsure standard. Awalnya aliran fungsionalis membatasi dirinya dalam mengkaji makamirakat secara keseluruhan, namun Merton menjelaskan bahwa dapat juga diterapkan pada organisasi, institusi dan kelompok. Dalam penjelasan ini Merton memberikan pemikiran tentang the middle range theory. Merton mengemukakan bahwa para ahli sosiologi harus lebih maju lagi dalam peningkatan kedisiplinan dengan mengembangkan “teori-teori taraf menengah” daripada teori-teori besar. Teori taraf menengah itu didefinisikan oleh Merton sebagai : Teori yang terletak di antara hipotesa kerja yang kecil tetapi perlu, yang berkembang semakin besar selama penelitian dari hari ke hari, dan usaha yang mencakup semuanya mengembangkan uato teori terpadu yang akan menjelaskan semua keseragaman yang diamati dalam perilaku social. Teori taraf menengah pada prinsipnya digunakan dalam sosiologi untuk membimbing penelitian empiris. Dia merupakan jembatan penghubung teori umum mengenai istem social yang terlalu jauh dari kelompok-kelompok perilaku tertentu, organisasi, ddan perubahan untuk mempertanggungjawabkan apa yang diamati, dan gambaran terinci secara teratur mengenai hal-hal tertentu yang tidak di generaliasi sama sekali. Teori sosiologi merupakan kerangka proposisi yang saling terhubung secara logis dimana kesatuan empiris bisa diperoleh. The middle range theory adalah teori-teori yang terletak pada minor tetapi hipotesis kerja mengembangkan penelitian sehari-hari yang menyeluruh dan keseluruhan upaya sistematis yang inklusif untuk mengembangkan teori yang utuh. The middle range theory Merton ini memiliki berbagai pemahaman bahwa secara prinsip digunakan untuk panduan temuan-temuan empiris, merupakan lanjutan dari teori system social yang terlalu jauh dari penggolongan khusus perilaku social, organisasi, dan perubahan untuk mencatat apa yang di observasi dan di deskripsikan, meliputi abstraksi, tetapi ia cukup jelas dengan data yang terobservasi untuk digabungkan dengan proposisi yang memungkinkan tes empiris dan muncul dari ide yang sangat sederhana. Dalam hal ini Merton seakan melakukan tarik dan menyambung, artinya apa yang dia kritik terhadap fungsionalis merupakan jalan yang dia tempuh untuk menyambung apa yang dia pikirkan. Atau dianalogikan, Merton mengambil bangunan teori kemudian di benturkan setelah itu dia perbaiki lagi dengan konseptual yang menurut kami sangat menarik. Para stuktural fungsional pada awalnya memustakan pada fungsi dalam struktru dan institusi dalam amsyarakat. Bagi Merton hal ini tidaklah demikian, karrena dalam menganalis hal itu , para fungsionalis awal cenderung mencampur adukna motif subjektif individu dengan fungsi stuktur atau institusi. Analisis fungsi bukan motif individu. Merton sendiri mendefinisikan fungsi sebagai konsekuensi-konsekuensi yang didasari dan yang menciptakan adaptasi atau penyesuian, karena selalu ada konsekuensi positif. Tetapi , Merton menambahkan konsekuensi dalam fakta sosial yang ada tidaklah positif tetapi ada negatifnya. Dari sini Merton mengembangkan gagasan akan disfungsi. Ketika struktur dan fungsi dpat memberikan kontribusi pada terpeliharanya sistem sosial tetapi dapat mengandung konsekuensi negative pada bagian lain.Hal ini dapat dicontohkan, struktur masyarakat patriarki c memberkan kontribusi positif bagi kaum laki-laki untuk memegang wewenang dalam keputusan kemasyarakatan, tetapi hal ini mengandung konsekuensi negative bagi kaum perempuan karena aspirasi mereka dalam keputusan terbatas. Gagasan non fungsi pun , dilontarkan oleh Merton. Merton mengemukakan nonfungsi sebagai konsekuensi tidak relevan bagi sistem tersebut. Dapatkonsekuensi positif dimasa lalu tapi tidak dimasa sekarang.Tidaklah dapat ditentukan manakah yang lebih penting fungsi-fungsi positif atau disfungsi. Untuk itu Merton menambahkan gagasan melalui keseimbangan mapan dan level analisis fungsional. Dalam penjelasan lebih lanjut , Merton mengemukakan mengenai fungsi manifest dan fungsi laten.Fungsi manifest adalah fungsi yang dikehendaki, laten adalah yang tidak dikehendaki.Maka dalam stuktur yang ada, hal-hal yang tidak relevan juga disfungso laten dipenagruhi secara fungsional dan disfungsional. Merton menunjukan bahwa suatu struktur disfungsional akan selalu ada. Dalam teori ini Merton dikritik oleh Colim Campbell, bahwa pembedaan yang dilakukan Merton dalam fungsi manifest dan laten , menunjukan penjelasan Merton yang begitu kabur dengan berbagari cara. Hal ini Merton tidak secara tepat mengintegrasikan teori tindakan dengan fungsionalisme. Hal ini berimplikasi pada ketidakpasan antara intersionalitas dengan fungsionalisme structural. Kami rasa dalam hal ini pun Merton terlalu naïf dalam mengedepankan idealismenya tentang struktur dan dengan beraninya dia mengemukakan dia beraliran fungsionalis, tapi dia pun mengkritik akar pemikiran yang mendahuluinya. Tetapi, lebih jauh dari itu konsepnya mengenai fungsi manifest dan laten telah membuka kekauan bahwa fungsi selalu berada dalam daftar menu struktur. Merton pun mengungkap bahwa tidak semua struktur sosial tidak dapat diubah oleh sistem sosial. Tetapi beberapa sistem sosial dapat dihapuskan. Dengan mengakui bahwa struktur sosia dapat membuka jalan bagi perubahan sosial. Analisi Merton tentang hubungan antara kebudayaan, struktur, dan anomi. Budaya didefinisikan sebagai rangkaian nilai normative teratur yang mengendalikan perilaku yang sama untuk seluruh anggota masyarakat. Stuktur sosial didefinisikans ebagai serangkaian hubungan sosial teratur dan memeprnagaruhi anggota masyarakat atau kelompok tertentu dengan cara lain. Anomi terjadi jika ketika terdapat disjungsi ketat antara norma-norma dan tujuan cultural yang terstruktur secara sosial dengan anggota kelompok untuk bertindak menurut norma dan tujuan tersebut. Posisi mereka dalam struktur makamirakat beberapa orang tidak mampu bertindakm menurut norma-norma normative . kebudayaan menghendaki adanya beberapa jenis perilaku yang dicegah oleh struktur sosial. Merton menghubungkan anomi dengan penyimpangan dan dengan demikian disjungsi antara kebudayan dnegan struktur akan melahirkan konsekuensi disfungsional yakni penyimpangan dalam masyarakat. Anomi Merton memang sikap kirits tentang stratifikasi sosial, hal ini mengindikasikan bahwa teori structural fungsionalisme ini aharus lebih kritis dengan stratifikasi sosialnya. Bahwa sturktur makamirakat yangselalu berstratifikasi dan masing-masing memiliki fungsi yang selama ini diyakini para fungsionalis, menurut dapat mengindikasikan disfungsi dan anomi. Dalam hal ini kami setuju dengan Merton,dalam sensory experiences yang pernah kami dapatkan, dimana ada keteraturan maka harus siap deng ketidakteraturan, dalam struktur yang teratur, kedinamisan terus berjalan tidak pada status di dalamnya tapi kaitan dalama peran. Anomi atau disfungsi cenderung hadir dipahami ketika peran dalam struktu berdasarkan status tidak dijalankan akibat berbagai factor. Apapun alasannya anomi dalam struktur apalagi yang kaku akan cenderung lebih besar. Dari sini, Merton tidak berhenti dengan deskripsi tentang struktur , akan tetapi terus membawa kepribadian sebagai produk organisasi struktur tersebut. Pengaruh lembaga atau struktur terhadap perilaku seseorang adalah merupakan tema yang merasuk ke dalam karya Merton, lalu tema ini selalu diilustrasikan oleh Merton yaitu the Self Fullfilling Prophecy serta dalam buku Sosial structure And Anomie. Disini Merton berusaha menunjukkan bagaimana struktur sosial memberikan tekanan yang jelas pada orang-orang tertentu yang ada dalam masyarakat sehingga mereka lebih , menunjukkan kelakuan non konformis ketimbang konformis. Menurut Merton, anomie tidak akan muncul sejauh masyarakkat menyediakan sarana kelembagaan untuk mencapai tujuan-tujuan kultur tersebut. Dari berbagai penajabaran yang ada Pemahaman Merton membawa pada tantangan untuk mengkonfirmasi segala pemikiran yang telah ada. Hal ini terbukti dengan munculnya fungsionalisme gaya baru yang lebih jauh berbeda dengan apa yang pemikiran Merton. Inilah bukti kedinamisan ilmu pengetahuan, tak pelak dalam struktural fungsionalisme. Sumber: • Barnard, A. 2000. History and Theory in Anthropology. Cambridge: CUP. • Barnard, A., and Good, A. 1984. Research Practices in the Study of Kinship. London: Academic Press. • Barnes, J. 1971. Three Styles in the Study of Kinship. London: Butler & Tanner. • Holy, L. 1996. Anthropological Perspectives on Kinship. London: Pluto Press. • Kuper, A. 1988. The Invention of Primitive Society: Transformations of an Illusion.London: Routledge. • Kuper, A. 1996. Anthropology and Anthropologists. London: Routledge. ( Why Hay You )

Selasa, 06 Agustus 2013

Four Teories

Empat Teori Penting dalam Sosiologi Topik perkuliahan ini membahas mengenai sejumlah teori penting dalam sosiologi. Mengingat demikian banyak teori-teori sosiologi tersebut, dalam perkuliahan ini hanya akan disinggung empat saja di antaranya. Keempat teori inipun hanya akan disinggung secara garis besarnya saja (mengingat antara satu tokoh dengan tokoh lain selalu ada variasi pandangan yang berbeda satu dengan lainnya). Teori-teori ini dipandang perlu untuk disinggung karena akan mewarnai analisis kita dalam pembahasan materi sosiologi hukum berikutnya. 1. Teori Struktural Fungsional 2. Teori Konflik 3. Teori Interaksi Simbolik 4. Teori Pertukaran Sosial Keempat Teori diatas dapat menjelaskan fenomena bagaimana memotret masyarakat TEORI STRUKTURAL FUNGSIONAL Teori Struktural Fungsional (terkadang ditulis Fungsional Struktural) dikemukakan antara lain oleh Emile Durkheim, Talcott Parsons, Kingsley Davis, dan Robert K. Merton. Mengapa dipakai kata STRUKTUR? Kata “struktur” dipakai untuk menunjukkan fakta-fakta di luar diri manusia. Manusia berperilaku karena menyikapi fakta-fakta yang sudah terstruktur. Jadi ada hubunga kausalitas antara faktor ekstern (heteronom) dan intern (otonom) manusia. Mengapa disebut FUNGSIONAL? Kata “fungsional” menunjukkan adanya unsur-unsur yang interdependen dalam masyarakat, mirip seperti organisme (misal tubuh manusia). Jadi untuk memahami masyarakat, kita harus memahami bagaimana bagian-bagian (unsur-unsur) masyarakat itu bekerja. Fungsionalisme sebagai suatu analisis sistem, merupakan analisis yang bersifat struktural (mencermati hubungan kausalitas di antara mereka). Teori Struktural Fungsional menekankan keteraturan (order), dengan konsep utama: FUNGSI, DISFUNGSI, FUNGSI LATEN, FUNGSI MANIFES, dan KESEIMBANGAN (equilibrium). Masyarakat adalah sistem sosial yang secara fungsional terhubung dengan sistem lainnya. Jika satu sistem tidak berfungsi akan mempengaruhi sistem lainnya. Di sini hukum diberi peran sebagai agen status quo. Dalam peran seperti ini hukum TIDAK MENYUKAI adanya perbuatan yang merusak tatanan sosial. Konflik adalah sesuatu yang diharamkan. Sesuatu yang tertib dan mapan dianggap BAIK (NORMAL), sebaliknya dianggap TIDAK BAIK (ABNORMAL) -- mirip seperti tubuh manusia (normality vs pathology) = OPOSISI BINER (binary opposition). Teori Struktural Fungsional dikritik karena mengasumsikan masyarakat selalu dalam kondisi damai (berjalan menurut fungsinya). Salah satu pendukung teori Struktural Fungsional ini adalah Talcott Parsons. Ia adalah pengemuka teori yang diberi nama "the Structure of Social Action". Talcott Parsons meyakini: (1) motivasi dasar manusia adalah untuk berkuasa; (2) dalam mencapati tujuan itu kerap terjadi konflik-konflik; (3) konflik-konflik dapat diatasi jika terdapat pemerintahan yang kuat; (4) dalam rangka memelihara efektivitas pemerintahan itu diperlukan faktor-faktor normatif. Dapat diduga bahwa Parsons pada akhirnya sangat mengandalkan hukum untuk menjalankan fungsinya dalam upaya menjaga efektivitas pemerintahan itu. Menurut Parsons, persoalan sentral dalam masyarakat bertolak pada dua hal, yaitu alokasi danintegrasi. Alokasi adalah soal distribusi sumber daya kepada orang-orang yang ada dalam masyarakat dan/atau distribusi orang untuk menduduki posisi tertentu dalam masyarakat. Integrasi adalah soal pengelolaan tegangan-tegangan yang muncul sebagai akibat dari pengalokasian. Seperti diungkapkan di atas, pemegang kekuasaan (pemerintah) diharapkan oleh Parsons dapat menggunakan hukum (konkretnya lembaga pengadilan) dalam upaya mengintegrasikan kembali masyarakat yang terlibat konflik (memperebutkan alokasi sumber daya). Pada tahun 1951, Parsons menyebutkan ada 3 sistem yang ada dalam masyarakat, yaitu SISTEM SOSIAL, SISTEM KEPRIBADIAN, dan SISTEM BUDAYA. Ketiganya disusun secara berurutan. Dalam konteks sistem sosial, manusia dipandang memiliki peran masing-masing dalam masyarakat. Sistem sosial berpotensi menciptakan konflik. Untuk menghindari konflik, sistem sosial membuat batasan tentang pola bertindak yang boleh/tidak boleh. Setiap orang memainkan peran sesuai posisinya dalam masyarakat (terpengaruh teori fungsionalisme). Setiap pemain peran memiliki ekspektasi-ekspektasi dan mereka saling berbagi ekspektasi (shared expectation) dengan saling mengisi fungsi-fungsi yang ada di masyarakat. Pola tindakan ini akan terus dijaga dan membuat interaksi anggota-anggota masyarakat menjadi efisien. Terciptalah stabilitas dan prediktibilitas. Contoh konflik tersebut adalah antara majikan dan buruh, dokter dan pasien, atau polisi dan penjahat. Sistem kepribadian memandang manusia selalu menjalankan peran itu tidak saja mengacu pada nilai-nilai dalam sistem sosial, melainkan juga pada disposisi kebutuhan masing-masing orang. Jadi, setiap manusia memiliki disposisi kebutuhannya sendiri-sendiri, yang terdiri dari preferensi(jika dihadapkan pada pilihan, saya lebih suka itu daripada ini...), hasrat (secara instinktif saya cenderung berbuat itu...); dan keinginan (saya berharap mendapatkan itu...). Di sini Parsons banyak dipengaruhi oleh tokoh psikoanalisis Sigmund Freud. Lalu, ada sistem budaya. Di sini manusia mengkoordinasikan tindakan-tindakannya agar tidak terjadi perbenturan ekspektasi dan perebutan pemenuhan kebutuhan. Sistem ini terdiri dari tiga wilayah penerapan, yang dilambangkan dengan: (a) Simbol-simbol kognisi. Contoh: angka-angka untuk menunjukkan perhitungan pembagian keuntungan dalam laporan keuangan. Angka-angka itu menyimbolkan sistem budaya dari aspek kognitif. (b) Simbol-simbol ekspresi (emosi). Contoh: benda-benda seni yang bisa dinikmati bersama oleh masyarakat. Candi, misalnya, adalah simbol sistem budaya yang ekpresif. (c) Simbol-simbol nilai (moral). Contoh: aturan hukum yang mengamanatkan tujuan yang ideal (keadilan) bagi segenap masyarakat. Parsons memberi tekanan pada pentingnya sistem budaya ini. Sebab, hanya dengan nilai-nilai terlembagakan dalam sistem budaya ini tercipta kesepakatan tentang standar perilaku untuk mengevaluasi perilaku konkret dan pola-pola pembagian sumber daya. Pada tahun 1956, Parsons mengoreksi teori sistemnya tersebut dengan menyebutkan 4 subsistem dalam sistem masyarakat. Kali ini ia menyebut empat sistem, yaitu SISTEM EKONOMI, SISTEM POLITIK, SISTEM SOSIAL, dan SISTEM BUDAYA. Masing-masing sistem tersebut memiliki fungsi untuk adaptation, goal attainment, integration, dan latency. Keempat fungsi inilah yang dikenal dengan singkatan AGIL. Keempat fungsi ini terjalin secara dependen membentuk sistem aturan dengan model sibernetis (cybernetic model of system regulation). Jika diilustrasikan akan tampak sebagai berikut. Dalam sistem ekonomi (atau bisa juga dipahami sebagai "subsistem" karena ia menjadi bagian dari sistem kemasyarakatan yang lebih luas) masyarakat diarahkan agar bertindak adaptif guna memenuhi kebutuhan hidup mereka, yakni mendapatkan benda-benda material agar mampu bertahan hidup. Dalam sistem politik, masyarakat dirahkan untuk mengikuti kebijakan si pemegang kekuasaan guna mencapai suatu tujuan bersama. Sistem sosial juga memiliki fungsinya sendiri, yaitu agar masyarakat diminta memelihara keutuhan sosial (integrasi sosial) dengan antara lain menaati aturan hukum. Terakhir adalah sistem budaya. Di sini masyarkat diarahkan bertindak sesutu nilai-nilai dari lembaga budaya yang sudah eksis, seperti masjid, gereja, sekolah, dll. Namun, perlu hati-hati karena setiap lembaga budaya ini sebenarnya tidak hanya menjalankan sistem budaya (fungsi latency). Gereja, misalnya, juga menjalankan keempat unsur dari AGIL tersebut sekaligus. jadi, gereja adalah suatu lembaga dalam subsistem budaya (berfungsi untuk:latent pattern maintenance and tension management), sekaligus menjalankan fungsi-fungsi berbeda yang diperankan oleh: a. komisi liturgi dan kelompok doa ~ latency (komitmen pada nilai) b. komisi disiplin ~ integration (memberikan pengaruh sosial) c. dewan paroki ~ goal attainment (menegakkan kekuasaan) d. panitia dana ~ adaptation (mengumpulkan sumber daya/uang) Pemikiran Parsons sangat menarik walaupun tidak berarti tanpa kritik. Parsons dikritik karena menekankan bahwa ciri pada masyarakat modern adalah komitmen mereka yang kuat pada nilai-nilai (subsistem budaya). Kenyataannya tidak selalu demikian. Contoh, rasisme tetap saja masih eksis pada masyarakat di negara-negara maju. Teori Parsons terkait dengan subsistem budaya ini kurang detail (dibandingkan misalnya dengan aliran Strukturalisme dan Pascastrukturalisme). Konsep-konsep yang diajukan Parsons hanya tentang nilai dan norma. Teori Parsons terpengaruh pada fungsionalisme, seolah-olah setiap orang sudah mempunyai peran sendiri-sendiri dan terkukung pada peran-peran itu. Padahal, subjek manusia mempunyai kreativitas untuk menciptakan peran-peran baru. Dosen kami (Bapak Shidarta) berpendapat bahwa teori Parsons tentang model sibernetika sebenarnya dapat dielaborasi sehingga menjadi setidaknya menjadi enam subsistem yang saling terkait [lihat penjelasannya dalam buku Shidarta, Moralitas Profesi Hukum: Suatu Tawaran Kerangka Berpikir (Bandung: Refika Aditama, 2010)]. Perhatikan, bahwa dalam ragaan di bawah ini ada sumber nilai dan sumber energi. Subsistem sosial juga dibedakan dengan subsistem hukum. Jika dilihat dari sudut subsistem hukum ini, terlihat javascript:void(0);dari mana arah sumber material hukum itu berasal, dan darimana pula arah sumber formal hukum tersebut datang. TEORI KONFLIK Teori Konflik dikemukakan antara lain oleh Karl Marx, C. Wright Mills, Tom B. Bottomore, Ralf Dahrendorf, Randall Collins, dan Richard P. Appelbaum. Di antara tokoh-tokoh di atas, nama Marx tentu paling banyak disorot. Menurut Karl Marx, sejarah masyarakat terjadi karena persaingan antar kelas (konsep alineasi memperebutkan sumber daya alam). Kapitalisme makin mempertajam persaingan itu. Namun, ia meramalkan bahwa suatu saat kelas borjuis akan dikalahkan oleh kelas proletar. Ramalan Marx ini berangkat dari dua teori yang dikemukakannya yaitu Teori Eksploitasi dan Teori Evolusi Kapitalisme. Teori Eksploitasi: Dunia modern diperintah oleh logika akumulasi komoditas. Nilai komoditas itu mencakup kualitas pekerjaan manusia. Kaum borjouis tidak membeli kualitas pekerjaan itu, tetapi hanya mau membayar tenaga buruh semurah mungkin. Padahal, ada nilai lebih dari tiap pekerjaan yang tak pernah diperhitungkan. Eksploitasi terjadi terus menerus oleh kaum kapitalis terhadap kaum proletar. Teori Evolusi Kapitalisme: Mekanisasi akan terus terjadi dalam sistem produksi. Kaum kapitalis akan mengakumulasi modal untuk investasi mekanistis ini. Buruh akan kalah bersaing dengan mesin. Upah makin rendah, terjadi pemelaratan yang menyulut pemberontakan massal. Sementara itu barang yang diproduksi tidak laku terjual karena daya beli menurun. Krisis terhadap kapitalisme diramalkan pasti makin lama akan makin berat. Jadi, penganut teori konflik sangat dipengaruhi oleh materialisme historis ala Marx. Dalam paham ini, struktur masyarakat ditentukan oleh cara mereka berproduksi. Alat produksi adalah materi terpenting yang menentukan struktur sosial. Ralf Dahrendorf (1976) menyatakan: "Setiap masyarakat tunduk pada proses perubahan." Disensus dan konflik terjadi di mana-mana. Setiap unsur masyarakat berkontribusi pada terjadinya disintegrasi dan perubahan sosial. Dalam konflik selalu terjadi pemaksaan di antara sesama anggota masyarakat. Konflik adalah sesuatu yang tidak terelakkan dalam masyarakat. Selain ada proses ASOSIATIF, tentu ada proses DISASOSIATIF. Jonathan H. Turner mengatakan, konflik tidak selalu berujung pada kehancuran sistem, namun justru bisa memperkuat sistem baik secara keseluruhan maupun bagian-bagian tertentu. Contoh persaingan usaha memperkuat dan menyehatkan perekonomian nasional; menguntungkan konsumen; mendorong terjadinya inovasi di bidang teknologi, dll.). Teori Konflik menekankan pertentangan terus-menerus di antara unsur-unsur dalam masyarakat (disintegrasi sosial). Masyarakat berada dalam proses perubahan (konflik itu pertanda perubahan). Keteraturan dapat saja terjadi karena ada satu golongan berkuasa yang memaksakan kehendaknya. TEORI INTERAKSI SIMBOLIK Teori Interaksi Simbolik ditokohi antara lain oleh Georg Herbert Mead, Manford H. Kuhn, Herbert Blumer, Ralp H. Turner, Howard S. Becker, Norman K. Denzin, dan J. Ter Hiede. Manusia itu mahluk sosial (hidup berkelompok). Sebagai mahluk sosial, mereka berinteraksi dan berkomunikasi dengan menggunakan simbol-simbol tertentu (a.l. bahasa). Ingat manusia adalahanimal symbolicum. Namun, simbol-simbol itu tidak hanya untuk keperluan berhubungan antarpribadi, melainkan juga untuk keperluan pribadi (berpikir). Setiap orang/kelompok akan memaksakan pandangannya sendiri (self-image) kepada pihak lain ~ tercipta proses “desak-mendesak” sampai kemudian terwujud WORKING CONSENSUS yang memungkinkan adanya tindakan-tindakan bersama. Working consensus itu memberi arahan tentang rencana (strategi menuju tujuan) bersama dalam hidup bermasyarakat itu. Jadi pada tingkat mikro pun, setiap orang berusaha belajar memahami orang lain. Oleh sebab itu, sistem sosial pun mengalami MORFOGENESE (terus belajar dan mengubah dirinya sendiri). HUKUM pun dapat dipandang sebagai hasil dari morfogenese ini. Dalam kuliah pernah dibahas suatu contoh makna sapi bagi penduduk Hindu di India. Imagetentang sapi ini antara lain dibentuk melalui keyakinan mereka terhadap cuplikan Mahabharata, yang bunyinya, "One should never feel any repugnance for the urine and the dung of the cow. One should never show any disregard for cows in any way. If evil dreams are seen, men should take the names of cows. One should never obstruct cows in any way. Cows are the mothers of both the Past and the Future. Every morning, people should bow with reverence unto cows. Cows are sacred. They are the foremost of all things in the world. They are verily the refuge of the universe. They are the mothers of the very deities. They are verily incomparable. Cows are the mothers of the universe. There is no gift more sacred than the gift of cows. There is no gift that produces more blessed merit." [From the Mahabharata, Anusasana Parva, Sections LXXXIII - LXXVII - LXXVI] Image ini saling dipertukarkan di antara sesama penganut Hindu di India, sehingga muncul suatu konsensus tentang bagaimana sapi harus diperlakukan. Image tentang sapi ini tidak hidup di kalangan non-Hindu, sehingga perlakuan terhadap sapi bisa sangat berbeda antara pemeluk Hindu dan non-Hindu. Hal yang serupa berlaku untuk image terhadap hewan babi di dalam perspektif penganut Islam, sehingga perlakuan terhadap babi akan berbeda antara pemeluk Islam dan non-Islam. Kiranya fenomena serupa berlaku juga untuk semua hal di dalam kehidupan sosial. Ter Heide menggambarkannya Teori Interaksi Simbolik ini dengan rumus sederhana: B = fPE (B adalah behavior, f adalah fungsi, P adalah plan, dan E adalah environment). Teori ini dapat menjelaskan, misalnya atas penelitian E.M. Bruner (antropolog Univ. Illinois) terhadap masyarakat Batak Toba yang berurbanisasi di kota Medan (1957-1958) dan Bandung (1969-1970). Perilaku (BEHAVIOR) berupa solidaritas kekerabatan dan adat istiadat Batak Toba yang mulai mengendur di daerah asalnya, justru menguat sesampai mereka di Medan. Hal ini terjadi karena ENVIRONMENT di Medan yang menghadapkan mereka pada persaingan kuat di tengah beragam suku. Untuk itu mereka perlu bersatu dengan saling membantu (PLAN). Hal ini berbeda dengan perilaku orang Batak Toba di Bandung. ENVIRONMENT di Bandung dikuasai oleh adat istiadat Sunda yang dominan, sehingga mereka tidak merasa perlu untuk bersaing; sebaliknya takluk pada budaya yang dominan itu. Teori ini juga bisa menjelaskan fenomena persekutuan sesaat yang kerap terjadi dalam konflik politik. Lewis Coser misalnya menjelaskan tentang adanya "conflict binds antagonistists” (kelompok-kelompok yang bertentangan dapat bersatu demi menghadapi lawan bersama). Jadiimage tentang "musuh" mengalamai morfogenese terkait dengan rencana dan kebutuhan situasional. Akibatnya, pihak-pihak ini membuat sebuah working consensus mengubah definisi musuh dan melakukan tindakan atas musuh bersama tadi. Di sini berlaku adigium yang sering terjadi dalam dunia politik antar-bangsa yakni "musuh dari musuh saya adalah kawan saya." Pada PD II, pasukan Chiang & Mao berhenti berperang demi menghadapi musuh bersama mereka yaitu Jepang; namun ketika Jepang berhasil dikalahkan, kedua kelompok ini kembali bersitegang. Hal serupa terjadi di Indonesia. Setelah G-30-S/PKI, berbagai kelompok sosial dan keagamaan di Indonesia bersatu menghadapi PKI, melupakan untuk sementara pebedaan yang terjadi. TEORI PERTUKARAN SOSIAL Teori Pertukaran Sosial dikemukakan antara lain oleh Peter Michael Blau, James S. Coleman, George C. Homans, dan Peter P. Ekeh. Teori Pertukaran Sosial berpendapat manusia itu mahluk yang penuh pamrih. Setiap orang ingin mendapatkan keuntungan dari hubungannya dengan orang lain. KEUNTUNGAN = IMBALAN (respons pihak lain) – BIAYA (kewajiban, rasa khawatir, kebosanan dll.). Perhitungan keuntungan itu merupakan pilihan rasional (rational choice theory). Di sini terjadi pertukaran (take and give) antara IMBALAN dan BIAYA. Sekalipun demikian, dalam hal tertentu, manusia juga sadar tidak selalu keuntungan berada di pihaknya. Oleh sebab itu, untuk sementara seseorang dapat saja berkorban demi perhitungan keuntungan di kemudian hari. Pertukaran sosial tidaklah sama dengan pertukaran ekonomi. Pada pertukaran sosial, prestasi dari para pihak tidak harus spesifik, sementara dalam pertukaran ekonomi harus spesifik. Jika dalam pertukaran ekonomi, yang terjadi adalah pertukaran KEWAJIBAN, maka pada pertukaran sosial yang terjadi adalah pertukaran HARAPAN. Ingat, bahwa HARAPAN berarti tidak selalu ada jaminan bahwa suatu hari ia pasti mendapatkan. Prinsip rasionalitas ini sudah disinggung oleh Jeremy Bentham (tokoh utilitarianisme) dengan perhitungan PLEASURE versus PAIN. Kalkulus hedonistis (hedonistic calculus) yang dikembangkannya berangkat dari perhitungan atas faktor-faktor: intensitas (intensity); lamanya kesenangan/penderitaan berlangsung (duration); kepastian akan terjadi (certainty); jauh dekat perasaan (cepat-lambat efeknya) (propinqity); akibat yang ditimbulkan (fecundity); kemurnian (purity); dan jangkauan (extent). Perilaku mabuk (akibat mengkonsumsi minuman keras), misalnya, dapat diukur dengan melihat seberapa banyak pleasure dan pain yang dihasilkan. Teori Pertukaran Sosial juga kerap kita praktikkan dalam hal kita memutuskan untuk menolong atau tidak menolong orang lain. Untuk itu perhatikan ilustrasi di bawah ini. PENUTUP Dari keempat teori ini, kita dapat melihat faktor-faktor sosial yang mempengaruhi tindakan sosial kita sebagai bagian dari masyarakat. Teori Struktural Fungsional lebih menekankan pada permainan fungsi-fungsi struktural yang ada di dalam masyarakat. Saya berbuat ini atau itu karena saya tunduk pada "aturan main" yang telah dilembagakan demi menjaga tertib sosial. Teori Konflik melihat dari sisi lain, bahwa saya berbuat ini atau itu justru karena saya tengah terlibat dalam upaya memperebutkan sumber-sumber materi kehidupan yang terbatas. Jadi, motif penguasaan materi itulah yang utama, yang justru tidak dapat dihindarkan dalam sejarah kehidupan manusia. Perebutan ini jika dibiarkan mengikuti paham kapitalis, pasti akan berujung pada kondisi chaos. Teori Interaksi Simbolik melihat secara lebih spesifik, bahwa saya berbuat ini atau itu semata-mata karena makna simbolik (image) yang saya yakini terhadap sesuatu. Imageyang saya yakini berinteraksi dengan image yang diyakini pihak lain, sehingga suatu ketika terciptalah konsensus yang memandu tindakan bersama atas dasar rencana dan kondisi yang disepekati tersebut. Teori yang keempat adalah Teori Pertukaran Sosial yang memandang tindakan sebagai akibat adanya pertukaran harapan antara pain dan pleasure, atau kerugian dan keuntungan. ( Created By Wahyuddin Bakri )

Minggu, 04 Agustus 2013

IETLS TIPS ( INTERNASIONAL ENGLISH LANGUAGE TESTING SYSTEM )

Writing the Introduction One the hardest part of IELTS writing module is writing the introduction. If you have a good technique for this, then the rest of the task is easy. The first thing to note is that writing about Tables, Graphs and Diagrams is not the same as writing an essay in IELTS writing task 2: 1. You are NOT asked to give your opinion on the information, but generally to write a report describing the information factually. 2. It is NOT necessary to write an introduction like in an essay for this writing task. You are writing a report, which means that you do NOT begin with a broad general statement about the topic. 3. You do NOT need to write a conclusion which gives any kind of opinion about the significance of the information. Three steps to keep up 1. Identify the main idea behind the graph or table. This will be the focus of your first sentence. 2. Consider the details of what is being shown - the units of measurement and the time frame - and decide how much you need to include. 3. Consider the language to use - the introductory expressions, the tenses of the verbs, the correct expressions of time and I or measurement etc. Three possible ways to start 1. Refer to the visual directly (e.g. This graph shows the population of Canada in from 1867 up to 2007.) However, this method is not advisable, since the instructions in the IELIS test will normally give you just this information. If you copy directly from the paper you are wasting time, since the examiner cannot assess your English from a copied sentence. 2. Refer directly to the main message conveyed by the visual (e.g. There was a sharp increase in the population of Canada from 1867 up to 2007.) This way is perfectly acceptable, and shows that you are able to recognise the main concept or message that the graph or table shows. 3. Combine the two (e.g. The graph shows that there was a sharp increase in the population of Canada from 1867 up to 2007.) This is also acceptable, and is often used as a convenient way to start. In order to use this method, it is necessary to use a few fixed expressions, which refer to the text itself, like those below. Introductory Expression 1. The graph/table shows/indicates/illustrates/reveals/represents... 2. It is clear from the graph/table... 3. It can be seen from the graph/table... 4. As the graph/table shows,... 5. As can be seen from the graph/table,... 6. As is shown by the graph/table,... 7. As is illustrated by the graph/table,... 8. From the graph/table it is clear.... It is always best to avoid using personal pronouns. Instead of saying We can see from the graph..., it is better to use the passive or impersonal constructions. Most of the above expressions can be followed by a clause starting with that. Several of the above expressions can be followed by a noun or noun phrase. Several of the above expressions must be followed by a main clause. Warnings 1. Avoid using the phrase: according to the graph. This is because the phrase according to generally means that the information comes from another person or source, and not from our own knowledge. (For example, According to Handbook, the Archaic Period started around 7000 BCE and ended around 1200 BCE.) In the case of a graph or table that is shown, the information is there right in front of you, the writer, and also the reader, and so you know it does not come from another source. 2. The expressions as can be seen from the graph or as is shown/illustrated by the table do NOT contain the dummy subject it. Avoid these expressions if you think you are going to forget this unusual grammar. 3. Avoid using the word presents. It requires a sophisticated summarising noun to follow. (For example: The graph presents an overview of the population growth of Canada between 1867 and 2007.)

Senin, 15 Juli 2013

GERAKAN SOSIAL SEBAGAI KEKUATAN PERUBAHAN

   Banyak pakar yang menyimak peran khas gerakan sosial ini. Mereka melihat gerakan sosial sebagai salah satu cara utama untuk menata ulang masyarakat modern (Blumer, 1951: 154); sebagai pencipta perubahan sosial (Killian,1964; 426); sebagai aktor historis (Touraine 1977; 298); sebagai agen perubahan kehidupan politik atau pembawa proyek historis (Eyerman & Jamison, 1991; 26).

 Ada pula yang menyatakan: ”gerakan massa dan konflik yang ditimbulkannya adalah agen utama perubahan sosial ” (Adamson & Borgos, 1984; 12). Cara gerakan sosial menyesuaikan diri dengan agen perubahan lainya adalah
Kriteria pertama, perubahan berasal ”dari bawah”, melalui aktifitas yang dilakukan oleh masyarakat biasa dengan derajat ”kebersamaan” yang berbeda-beda. Perubahan lain mungkin berasal ”dari atas”, melalui aktifitas elite yang berkuasa (penguasa, pemerintah, manajer, administrator, dll) mampu memaksakan kehendaknya kepada anggota masyarakat yang lain.
Kriteria kedua, perubahan mungkin diinginkan, diinginkan oleh agen, dilaksanakan sebagai realisasi proyek yang mereka rencanakan sebelumnya; perubahan lain mungkin muncul sebagai efek samping tak diharapkan, efek samping dari tindakan yang tujuannya sama sekali berlainan.
 1. Definisi gerakan sosial 
     Ø Kolektivitas yang bertindak bersama.
     Ø Tujuan bersama tindakannya adalah perubahan      tertentu dalam masyarakat mereka yang ditetapkan partisipan menurut cara yang sama.
     Ø Kolektivitasnya relatif tersebar namun lebih rendah derajatnya dari organisasi formal.
     Ø Tindakannya mempunyai derajat spontanitas relatif tinggi namun tak terlembaga dan bentuknya tak konvensional. Jadi gerakan sosial adalah tindakan kolektif yang diorganisir secara longgar, tanpa cara terlembaga untuk menghasilkan perubahan dalam masyarakat mereka.

    Penekanan serupa juga ditemukan oleh definisi beberapa ahli, diantaranya adalah :
   Ø Upaya kolektif untuk membangun tatanan kehidupan yang baru (Blumer, 1951; 199)
   Ø Upaya kolektif untuk mengubah tatanan norma dan nilai (Smelser, 1962; 3) Pakar kontempoter mengemukakan ciri gerakan sosial adalah Tindakan kolektif yang kurang lebih terorganisir, bertujuan perubahan sosial atau lebih tepatnya kelompok individu yang secara bersama bertujuan mengungkapkan perasaan tak puas secara kolektif di depan umum dan mengubah basis sosial dan politik yang dirasakan tak memuaskan itu. (Eyerman & Jamison, 1991; 43-44) 

      Adapun hubungan keeratan antara gerakan sosial dengan perubahan sosial adalah ”Perubahan sosial adalah basis yang menentukan ciri gerakan sosial. Gerakan sosial berkaitan erat dengan perubahan sosial. (Wood & Jackson, 1982: 6) Berikut penjelasannya:
    Ø Perubahan sosial selaku tujuan gerakan sosial berarti dua hal yang berbeda. Tujuannya dapat menjadi posistif dan negatif. Dapat menjadi positif, memperkenalkan sesuatu yang belum ada. Negatif, menghentikan, mencegah atau membalikkan perubahan yang dihasilkan proses yang tak berkaitan dengan gerakan sosial (misalnya kemerosotan lingkungan alam, kenaikan angka fertilitas)
    Ø Gerakan sosial mempunyai berbagai status penyebab berkenaan dengan perubahan. Disatu fihak, gerakan ini dianggap sebagai penyebab utama perubahan dalam arti sebagai kondisi yang diperlukan dan cukup untuk menimbulkan perubahan. Dilain fihak, gerakan sosial hanya dapat dilihat sebagai dampak, gejala yang menyertai proses untuk dikembangkan oleh daya dorongnya sendiri (misalnya menyertai kemajuan modernisasi, urbanisasi, dll)
     Ø Berkaitan dengan bidang tempat terjadinya perubahan sosial yang disebabkan oleh gerakan sosial. Biasanya dilakukan oleh masyarakat yang lebih luas yang berada di luar gerakan itu sendiri. Kelihatannya gerakan sosial itui sendiri seakan-akan adalah tindakan terhadap masayarakat dari luarnya, tetapi jangan lupa bahwa setiap gerakan sosial merupakan segmen anggotanya dan merembesi bidang fungsi tertentu.
 2. Gerakan sosial dan modernitas Gerakan sosial besar-lah yang menyumbang terhadap kelahiran modernitas di saat revolusi borjuis besar di Inggris, Perancis, dan AS. Strategi dan taktik gerakan disemua zaman itu telah berkembang, namun kebanyakan pengamat sependapat bahwa hanya dalam masyarakat modern-lah ”era gerakan sosial benar-benar dimulai”. Gerakan sosial adalah bagian sentral modernitas. Gerakan sosial menentukan ciri-ciri politik modern dan masyarakat modern (Eyerman & Jamison, 1991: 53).
   Alasan yang menyebabkan gerakan sosial dizaman modern teori menonjol, diantaranya adalah:
   Ø Teori Durkheim. Kecenderugan kepadatan penduduk dikawasan sempit terjadi bersamaan dengan urbanisasi dan industrialisasi dan menghasilkan kepadatan moral penduduk yang besar.
   Ø Gambaran modenitas lain adalah disebut ”Tema Tonnies”, yakni atomisasi dan isolasi individu dalam Gesellschaft yang bersifat impersonal.
   Ø Tema Marxian. Peningkatan ketimpangan sosial yang belum pernah terjadi sebelumnya, dengan perbedaan kekuasaan, dan prestise yang sangat tajam ini menimbulkan pengalaman dan kesan eksploitasi, penindasan, ketidakadilan, dan perampasan hak yang menimbulkan permusuhan dan konflik kelompok.
    Ø Tema Webberian, Transformasi demokratis sistem politik, membuka peluang bagi tindakan kolektif massa rakyat.
    Ø Gambaran yang disebut Tema Comte dan Saint Somin. Mereka menekankan modernitas pada penaklukan, kontrol, dominasi, dan manipulasi realitas mula-mula terhadap realitas alam dan akhirnya juga terhadap realitas masyarakat manusia.
     Ø Masyarakat modern mengalami peningkatan pendidikan dan mempunyai kultur umum. Partisipasi dalam gerakan sosial membutuhkan kesadaran, imajinasi, kepekaan moral, dan perhatian terhadap masalah publik dalam derajat tertentu serta kemampuan menggeneralisirnya dari pengalaman pribadi dan lokal.
     Ø Kemunculan dan penyebaran media massa (Molotch, 1979) media massa merupakan instrumen yang sangat kuat untuk mengartikulasikan, membentuk, dan menyatukan keyakinan, merumuskan dan menyebarkan pesan ideologis, serta membentuk pendapat umum.
  3. Tipe gerakan sosial. 
  Gerakan sosial memiliki tipe yang terdiri dari beberapa bagian, yaitu :
    Ø Gerakan sosial yang berbeda menurut bidang perubahan yang diinginkan. Ada yang terbatas tujuannya, hanya untuk mengubah aspek tertentu kehidupan masyarakat tanpa menyentuh inti struktur institusinya, gerakan yang hanya menginginkan perubahan ”di dalam” ketimbang perubahan masyarakatnya sebagai keseluruhan disebut gerakan reformasi. Contoh: gerakan pro dan anti aborsi yang menuntut perubahan UU yang sepantasnya, gerakan perlindungan binatang, dll.
    Ø Gerakan sosial yang berbeda dalam kualitas perubahan yang diinginkan. Singkatnya, gerakan ini membentuk masyarakat ke dalam suatu pola yang belum pernah ditemukan sebelumnya. Orientasi gerakan ini adalah masa depan. Perubahan diarahkan ke masa depan dan menekankan pada suatu hal yang baru disebut gerakan progresif. Contoh: gerakan republik, sosialis, dan gerakan wanita. Perubahan yang mereka ajukan diarahkan kebelakang dan ditekankan pada tradisi disebut gerakan konservatif, contoh gerakan mayoritas moral di AS yang menghimbau untuk kembali ke nilai-nilai keluarga.
    Ø Gerakan yang berbeda dalam target perubahan yang diinginkan. Ada yang memusatkan perhatian pada perubahan struktur sosial, ada yang pada perubahan individual. Gerakan perubahan struktural ada dua: 1)Gerakan sosial politik yang berupaya mengubah stratifikasi politik, ekonomi dan kelas serta senantiasa menentang penguasa negara yang mempunyai kekuasaan formal sangat kecil. 2)Gerakan sosio-kultural, yang mengusulkan perubahan keyakinan, nilai, norma, simbol dan pola hidup sehari-hari. Contoh: gerakan hipies punk.
   Gerakan yang lebih menargetkan individu ketimbang struktur juga ada dua, yaitu a)Gerakan suci, mistik, religius yang berjuang mengubah atau menyelamatkan anggotanya dan menghidupkan suasana keagamaan. Contoh: gerakan penyebar injil yang diprakarsai oleh Paus John Paul. b)Gerakan sekuler yang berupaya memperbaiki moral atau mental anggotanya.
    Ø Gerakan sosial yang berbeda mengenai ”arah perubahan yang diinginkan”. Kebanyakan gerakan mempunyai arah positif, seperti mencoba memperkenalkan perubahan tertentu, membuat perbedaan. Arah positif ini juga dipertahankan ketika gerakan mobilisasi untuk mencegah perubahan, baru kemudian arahnya negatif. Contoh: gerakan mempertahankan kultur asli pribumi, memerangi globalisasi, dll.
     Ø Gerakan sosial yang berbeda dalam strategi yang melandasi atau ”logika tindakan mereka (Rucht, 1988) ada yang mengikuti logika instrumental; gerakan ini berjuang untuk mendapatkan kekuasaan politik dan dengan kekuasaan itu memaksakan perubahan yang diinginkan dalam hukum, institusi, dan organisasi masyarakat. Contoh: partai hijau Jerman, dan gerakan solidaritas di Polandia. Gerakan lain mengikuti ”logika perasaan (expressive) yang berjuang menegaskan identitas, untuk mendapatkan pengakuan nilai-nilai mereka atau pandangan hidup mereka, untuk mencapai otonomi, persamaan hak, emansipasi politik, kultural bagi anggotanya atau mendapatkan anggota lebih banyak. Contoh: gerakan hak-hak sipil, etnis dan feminisme.
    Ø Perbedaan tipe gerakan sosial yang ditemukan sangat memonjol dalam epos sejarah yang berlainan. Gerakan yang menonjol di fase awal modernitas yang memusatkan pada kepentingan ekonomi. Contoh: klasiknya gerakan serikat buruh dan petani. Dalam dekade belakangan ini mayarakat kapitalis paling maju memasuki fase terakhir modernitas atau yang dikenal post-modern, menyaksikan tipe lain gerakan sosial, yang disebut gerakan sosial baru (Tauraine, 1991; Offe, 1995) contohnya gerakan ekologi, perdamaian, dll.
     Ø Bila orang melihat pada masyarakat konkret, pada waktu histeris konkret, disitu akan selalu tampak susunan gerakan sosial yang kompleks dan heterogen. Lebih tepatnya; tiap gerakan menciptakan kondisi untuk memobilisasi gerakan tandingan. 4. Dinamika internal gerakan sosial Bahasan dinamika internal gerakan dibagi atas empat tahap utama, asal-usul, mobilisasi, perluasan struktur dan terminasi.
    Ø Semua gerakan sosial berasal dari kondisi khusus. Gerakan sosial lahir dalam kecenderungan struktur historis. Secara umum dapat dikatakan bahwa sebelumnya ada struktur, sudah tersedia tumpukan sumber daya dan fasilitas untuk gerakan. Kondisi struktural yang kondusif dan ketegangan struktural (Smelser, 1962) adalah perlu tetapi tak cukup untuk membangkitkan suatu gerakan. Dalam fase selanjutnya, proses harus bergerak kebidang kesadaran sosial. Keberhasilan tindakan kolektif berawal dari transformasi yang signifikan dalam kesadaran kolektif aktor yang terlibat (McAdams, et.al., 1988; 713).
    Ø Kejadian yang tak signifikan menutup awal karir gerakan dan memulai tahapan mobilisasi. Gelombang pertama yang di kerahkan adalah orang yang paling dipengaruhi oleh kondisi buruk yang melahirkan gerakan, orang yang mempunyai kesadaran dan kepekaan paling tajam terhadap isu sentral gerakan dan orang yang paling bertanggung jawab secara intelektual, emosional, moral, politis terhadap penyebab timbulnya gerakan. Pada gelombang kedua membawa anggota yang mencari keselarasan dan makna dalam kehidupan. Pengaruh keikutsertaan pihak yang menang tak hanya berperan tetapi juga dalam merekrut gerakan. Dalam gerakan kedua ini orang bergabung lebih karena untuk mendapatkan kesenangan hidup ketimbang keyakinan.
    Ø Mobilisasi membuka tahap utama selanjutnya dalam perkembangan gerakan yaitu pengembangan struktural. Yang berjalan dari pengumpulan individu yang akan memobilisasi hingga menjadikan anggota penuh organisasi gerakan: a) Kita dapat membedakan antara empat subproses morphogenesis internal ini, kemunculan bertahap (artikulasi) ide kepercayaan, keyakinan, dan istilah bersama tentang harapan dan proses. (Rude, 1964: 75). 2) Lalu kemunculan (institusionalisasi) norma dan nilai baru yang mengatur fungsi internal gerakan menyediakan kriteria untuk mengkritik kondisi eksternal yang akan dijadikan target gerakan itu sendiri. 3)Subproses berikutnya adalah kemunculan (terpolanya) struktur organisasi internal yang baru; pola interaksi, hubungan, ikatan, perhatian, kesetiaan, dan komitmen baru dikalangan anggota. 4)Subproses terakhir adalah kemunculan kristalisasi struktur peluang baru, hierarki ketergantungan, dominasi, kepemimpinan, pengaruh, dan kekuasaan baru didalam gerakan. Dasar keanggotaan gerakan selalu distratifikasi secara internal; terdapat berbagai tingkatan partisipasi, komitmen dan tanggung jawab.
   5. Dinamika eksternal gerakan sosial Gerakan sosial akan dilihat sebagai ’kotak hitam” melupakan perkembangan internalnya. Dampak terhadap struktur eksternal dapat dinilai dalam kaitannya dengan tujuan semula yang ingin mewujudkan gerakan atau membandingkannya dengan kecenderungan perubahan historis objektif dan konkret. Pivem dan Cloward mengatakan ”Apa yang dimenangkan harus dinilai dengan apa yang mungkin” (1979; xiii). Begitu pula dampak nyata gerakan yang didasari sepenuhnya oleh anggotanya, harus dibedakan dari kemungkinan adanya fungsi tersembunyi (efek samping yang tak disadari dan tak dinginkan) terakhir, efek jangka pendek harus dibedakan dari efek jangka panjang yang hanya akan berwujud dengan sindirinya di masa depan. Akibat gerakan sosial selalu kompleks dan ambivalen maka apa yang dianggap sukses menurut satu ukuran relatif mungkin terbukti gagal menurut relatif lain dan sebaliknya. Contoh: gerakan oposisi yang dinilai kalah, remuk, hancur, mungkin meninggalkan efek struktural abadi, melapangkan jalan untuk kemenangan akhirnya. 6. Keadaan teori gerakan sosial Seperti sub bidang sosiologi lain, sosiologi gerakan berkaitan erat dengan teori umum sosiologi. Keduanya saling berhubungan. Pertama, setiap riset gerakan sosial bertolak dari teori umum tentang masyarakat. Kedua, hasil riset gerakan sosial memperkuat keyakinan terhadap teori umum sosiologi tertentu dan merontokkan yang lain. Contoh: teori perkembangan sejarah (historisisme) melukiskan proses historis mempunyai logika, makna atau berbentuk khusus dan mengalami kemajuan menurut cara tertentu sesuai dengan ”hukum besi” sejarah. Karena itu teori ini memandang gerakan sosial semata sebagai simpton atau fenomena perubahan sosial yang terus menerus. Kecenderungan kerah antitesis dan rekonsiliasi ini ternyata benar dan tepat. Kebijakan sosiologi bukan melestarikan satu teori atau aliran tertentu. Koplektivitas fenomena gerakan sosial memerlukan berbagai sumber penjelasan dan hanya dapat dijelaskan dengan bermacam-macam teori atau dengan satu teori yang bersifat multidimensional. Upaya untuk membangun hubungan antara berbagai pendekatan, akan memungkinkan kita mendapatkan ide yang lebih lengkap tentang keteraturan sosial serta kemunculan, keberadaan, dan dampak gerakan sosial. (Needhart & Rucht, 1991: 443). Upaya itu juga menyediakan landasan penting untuk mengetes atau untuk menyediakan tempat riset strategis teori umum masyarakat (Merton, 1973: 371) yang mencoba mensitesiskan ”dua sosiologi”: sosiologi tentang tindakan individual dan sosiologi struktur. Pertama, gerakan sosial adalah wujud ciri dari dua sisi realitas sosial, dialektika dari individu dan kesatuan sosial. McAdams, McCarty, dan Zald mengamati bahwa tindakan nyata dalam gerakan sosial terjadi pada tingkat menengah antara makro dan mikro (McAdams, et,al., 1988; 729). Jadi gerakan sosial mencerminkan bentuk menengah anatomi realitas sosial. Gerakan sosial juga mencerminkan tahap menengah dari dinamika yang muncul dalam pabrik sosial. Jadi gerakan sosial memungkinkan kita memahami relaitas sosial sebagaimana adanya sejak dini. Selanjutnya gerakan sosial juga mempunyai kualitas menengah dalam arti lain. Keberadaannya secara internal terletak diantara kumpulan individu yang bertindak dan kesatuan sosial yang terkristal: ”gerakan sosial bukanlah tindakan kolektif penuh dan bukanlah pula kelompok kepentingan yang baru; jadi gerakan sosial mengandung unsur-unsur esensial keduanya (Freeman 1973; 793). Jadi meneliti gerakan sosial memungkinkan kita memahami fase menengah bangunan struktur internalnya, melihat bagaimana cara struktur internal gerakan itu muncul dan berubah. Killian menyimpulkan: ”Studi gerakan sosial bukanlah studi tentang kelompok stabil atau institusi mapan, tetapi studi kelompok dan institusi yang berada dalam proses pembentukannya (1964; 427). Jadi gerakan sosial muncul sebagai komponen penting dibidang sosiologi individual dalam proses transformasi dirinya berlangsung terus menerus. Studi gerakan sosial menyediakan bukti yang menguatkan bagi teori keselarasan. 7. Komentar terhadap teori dan keterkaitannya dengan contoh kasus. Dengan pemaparan yang telah dijelaskan tentang gerakan sosial sebagai kekuatan perubahan, terlebih pada awal-awal pembahasan yang menjabarkan tentang definisi-definisi baik dari para pakar sosiologi ataupun kesimpulan dari buku dapatlah dikatakan bahwa singkatnya gerakan sosial adalah tindakan kolektif yang diorganisir secara longgar, tanpa cara terlembaga untuk menghasilkan perubahan dalam masyarakat mereka, atau juga dapat dikatakan sebagai suatu gerakan yang dilakukan masyarakat yang sifatnya kelompok/kolektif sesuai dengan kesepakatan. Begitu banyak fenomena-fenomena yang terjadi khususnya yang terkait pada gerakan sosial yang menjadi bahasan pada lembaran essey ini. Gerakan sosial lebih melihat kejadian atau sesuatu hal dari dampak yang ditimbulkan. Pada dasarnya yang dilihat tentang terjadinya gerakan sosial adalah dampak yang ditimbulkan dari gerakan tersebut. Seperti contoh kasus tentang pergerakan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan Non Goverment Organization (NGO) atau organisasi non-kepemerintahan yang memperjuangakan hak hak rakyat yang belum didapati. LSM itu sendiri merupakan kelompok primer, yaitu mereka yang bekerja sama karena mempunyai kesamaan aspirasi dan kegiatan bersama, dimana hubungan keduanya akrab dan mampu berkomunikasi dengan masyarakat lapisan bawah. LSM itu sendiri di bantu tenaga sukarela, yang biasanya disebut dengan relawan atau istilah-istilah yang telah disepakati oleh keputusan bersama dalam LSM itu sendiri. LSM bergerak dibidang dimana pemerintah tidak dapat menjangkau permasalahan ataupun suatu hal yang tidak dapat di atasi oleh pemerintah dalam hal ini tentunya kebijakan pemerintah. Pekerjaan mereka berdasarkan atas pangilan kebutuhan masyarakat atau kamanusiaan karena berasal, berakar, dan tumbuh dari dan oleh masyarakat. Misi utama LSM adalah mengembangkan kemampuan masyarakat untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraannya, dengan harapan setelah program atau kegiatan berakhir masyarakat kelompok sasarannya dapat menjadi mandiridan swadaya. Untuk mencapai tujuan berasama, mereka bekerja berdasarkan prinsip saling membantu berdasarkan kepentingan bersama yang biasanya adalah mengatasi persoalan kebutuhan dasar. Cara LSM menjadi fasilitator adalah dengan membantu rakyat menorganisasi diri, mengidentifikasi kebutuhan lokal, dan memobilisasi sumber daya yang ada pada mereka. Selain itu, LSM juga membantu mendapatkan sumber daya dari luar sebagai tambahan sumber daya lokal jika yang tersedia tidak memadai guna memenuhi suatu kebutuhan tertentu. Dari hal tersebut, telah jelas bahwa gerakan sosial yang dilakukan oleh LSM untuk masyarakat atau rakyat sangatlah konkrit. Karena langsung terasa pada aspek-aspek kehidupan masyarakat. Pergerakan dari LSM itu sendiri bersifat kooperatif terhadap pemerintah, bukan berarti kaki tangan dari pemerintah melainkan kepanjangan tangan dari pemerintah untuk melaksanakan program pembangunan nasional. Akan tetapi, LSM terkadang tidak sejalan dengan pemerintah dan tidak bersifat anarkis. Hal tersebut dikarenakan untuk merangsang gerakan pemerintah agar cepat tanggap dalam menyikapi sesuatu yang terjadi. Kesimpulan Dari pemaparan dari awal pembahasan, komentar tentang gerakan sosial kemudian di lanjutkan dengan contoh kasus tentang gerakan sosial yang dilakukan oleh LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) dapatlah disimpulkan bahwa kasus tentang pergerakan LSM adalah termasuk ke dalam tipe gerakan yang berbeda dalam target perubahan yang diinginkan. Saran Munculnya LSM sebagai agen perubahan sangat erat hubungannya dengan perubahan sosial. Gerakan sosial yang dalam fokus kajian merupakan contoh kasus nyata yang dihadapi dalam keseharian pemerintah Indonesia. Hal yang harus dilakukan yang paling mendasar oleh Pemerintah dalam hal ini seharusnya menjadikan cepat tanggap dalam menghadapi peristiwa-peristiwa ataupu kejadian-kejadian yang sedang berkembang serta peka terhadap apa yang terjadi pada rakyatnya. ( Why Hay You )

Rabu, 19 Juni 2013

BENCANA KEMANUSIAAN AKIBAT DARWINISME

Aliansi Berdarah Antara Darwin dan Hitler Nazisme lahir di tengah kekacauan di Jerman yang menderita kekalahan dalam perang dunia pertama. Pemimpin partai ini adalah Adolf Hitler, sosok pemarah dan agresif. Rasisme melandasi cara pandang Hitler terhadap dunia. Ia meyakini Arya, yang merupakan ras utama bangsa Jerman, sebagai ras paling unggul di atas semua ras lain, sehingga sudah sepatutnya memimpin mereka. Ia memimpikan bahwa ras Arya akan mendirikan imperium dunia yang akan bertahan selama 1000 tahun. Landasan ilmiah yang digunakan Hitler bagi teori rasis ini adalah teori evolusi Darwin. Tokoh utama yang mempengaruhi pemikiran Hitler, yakni sejarawan rasis Jerman Herinrich Von Treitschke, sangat dipengaruhi teori evolusi Darwin dan mendasarkan pandangan rasisnya pada Darwinisme. Ia sering berkata, "Bangsa-bangsa hanya mampu berkembang melalui persaingan sengit sebagaimana gagasan Darwin tentang kelangsungan hidup bagi yang terkuat," dan memaklumkan bahwa ini berarti peperangan tanpa henti yang tak terhindarkan. Ia berpandangan bahwa, "Penaklukan dengan pedang adalah cara untuk membangun peradaban dari kebiadaban dan ilmu pengetahuan dari kebodohan." Ia berpendapat, "Ras-ras kuning tidak memahami ketrampilan seni dan kebebasan politik. Sudah menjadi takdir ras-ras hitam untuk melayani bangsa kulit putih dan menjadi sasaran kebencian orang kulit putih untuk selamanya..."43 Saat membangun teorinya, Hitler, sebagaimana Treitschke, mendapatkan ilham dari Darwin, terutama gagasan Darwin tentang perjuangan untuk bertahan hidup. Judul bukunya yang terkenal, yakni Mein Kampf (Perjuangan Saya), telah terilhami oleh gagasan tersebut. Seperti halnya Darwin, Hitler memberikan status kera pada ras selain Eropa, dan mengatakan, "Singkirkan bangsa Jerman Nordik dan tidak ada yang tersisa kecuali tarian para kera".44 Dalam rapat umum partai pada tahun 1933 di Nuremberg, Hitler mengatakan bahwa, "ras yang lebih tinggi menjajah ras yang lebih rendah…sebuah kebenaran yang kita saksikan di alam dan yang dapat dianggap sebagai satu-satunya kebenaran yang mungkin," karena didasarkan pada ilmu pengetahuan.45 Hitler dan bukunya Mein Kampf yang berisi ulasan tentang ideologinya. Hitler, yang meyakini keunggulan ras Arya, mempercayai keunggulan tersebut sebagai pemberian alam. Dalam buku Mein Kampf ia menulis sebagai berikut: Orang-orang Yahudi membentuk ras pesaing lebih rendah di bawah manusia, yang telah ditakdirkan oleh warisan biologis mereka sebagai yang terhina, sebagaimana ras Nordik telah dinobatkan sebagai yang terhormat… Sejarah akan berpuncak pada sebuah imperium milenium baru dengan kemegahan yang tiada tara, yang berlandaskan pada hirarki baru berdasarkan ras sebagaimana ketentuan alam itu sendiri.46 Hitler, yang menganggap manusia sebagai jenis binatang yang sangat maju, percaya bahwa untuk mengatur proses evolusi, diperlukan pengambil-alihan kendali proses tersebut ke tangannya sendiri dalam rangka membangun ras manusia Arya, daripada membiarkannya diatur oleh kekuatan alam dan peristiwa kebetulan. Dan inilah tujuan akhir pergerakan Nazi. Untuk mewujudkan tujuan ini, langkah awalnya adalah memisahkan, dan mengucilkan ras-ras lebih rendah dari ras Arya yang dianggap paling unggul. Di sinilah Nazi mulai menerapkan Darwinisme dengan mengambil contoh dari "teori eugenika" yang bersumber pada Darwinisme. Teori Eugenika Didasarkan pada Gagasan Darwin Teori eugenika muncul di pertengahan awal abad ke-20. Eugenika berarti membuang orang-orang berpenyakit dan cacat, serta "memperbaiki" ras manusia dengan memperbanyak jumlah individu sehat. Sebagaimana hewan jenis unggul dapat dibiakkan dengan mengawinkan induk-induk hewan yang sehat, maka berdasarkan teori ini ras manusia pun dapat diperbaiki melalui cara yang sama. Francis Galton (kiri) dan Leonard Darwin (kanan). Seperti telah diduga, yang memunculkan program eugenika adalah para Darwinis. Para pemuka pergerakan eugenika di Inggris adalah sepupu Charles Darwin, Francis Galton, dan anaknya Leonard Darwin. Telah jelas bahwa gagasan eugenika merupakan akibat alamiah Darwinisme. Bahkan, kebenaran tentang eugenika ini mendapatkan tempat istimewa dalam berbagai penerbitan yang mendukung eugenika, "Eugenika adalah pengaturan mandiri evolusi manusia", bunyi salah satu tulisan tersebut. Kenneth Ludmerer, ahli sejarah kedokteran di Washington University, mengemukakan bahwa gagasan eugenika seusia dengan gagasan Republik Plato, tapi ia juga menambahkan bahwa Darwinisme merupakan penyebab munculnya ketertarikan terhadap gagasan eugenika di abad ke-19: Ernst Haeckel …pemikiran eugenika modern muncul hanya pada abad ke-19. Adanya ketertarikan terhadap eugenika selama abad itu disebabkan oleh banyak hal. Di antara yang terpenting adalah teori evolusi, sebab gagasan Francis Galton tentang eugenika - dan dialah yang menciptakan istilah eugenika - adalah akibat logis langsung dari doktrin ilmiah yang dikemukakan sepupunya, Charles Darwin.47 Di Jerman, orang pertama yang terpengaruh dan kemudian menyebarkan teori eugenika adalah ahli biologi evolusionis terkenal Ernst Haeckel. Haeckel adalah teman dekat sekaligus pendukung Darwin. Untuk mendukung teori evolusi, ia mengemukakan teori "rekapitulasi", yang menyatakan bahwa embrio dari berbagai makhluk hidup menyerupai satu sama lain. Di kemudian hari diketahui ternyata Haeckel telah memalsukan data ketika memunculkan pendapatnya ini. Selain membuat pemalsuan ilmiah, Haeckel juga menyebarkan propaganda eugenika. Ia menyarankan agar bayi cacat yang baru lahir segera dibunuh karena hal ini akan mempercepat evolusi pada masyarakat manusia. Ia bahkan melangkah lebih jauh dengan mengatakan para penderita lepra dan kanker serta yang berpenyakit mental harus dibunuh dengan tanpa ada masalah, sebab jika tidak, mereka akan membebani masyarakat dan memperlambat evolusi. Peneliti Amerika George Stein berkesimpulan tentang dukungan buta Haeckel terhadap teori evolusi dalam artikelnya di majalah American Scientist sebagai berikut: …[Haeckel] berpendapat bahwa Darwin benar…manusia, tanpa perlu dipertanyakan lagi, berevolusi dari dunia hewan. Demikianlah, dari sini langkah maut telah diambil saat Haeckel pertama kali mengemukakan Darwinisme ke seluruh penjuru Jerman, keberadaan manusia secara sosial dan politik dikendalikan oleh hukum-hukum evolusi, seleksi alam, dan biologi, sebagaimana dikemukakan secara jelas oleh Darwin. Untuk berpendapat sebaliknya adalah pandangan takhayyul yang ketinggalan zaman.48 Orang-orang tua dan berpenyakit dibunuh menurut kebijakan eugenika Hitler. Haeckel meninggal pada tahun 1919. Tapi gagasannya diwarisi oleh kaum Nazi. Segera setelah Hitler meraih kekuasaan, program resmi eugenika mulai diterapkan. Hitler menyatakan kebijakan baru tersebut dalam kalimat berikut ini: Dalam negara yang populer, pendidikan akal dan jasmani akan memainkan peranan penting, tetapi seleksi manusia pun sama pentingnya…Negara bertanggung jawab memutuskan ketidaklayakan bereproduksi kepada siapapun yang jelas-jelas sakit atau berkelainan secara genetis… dan harus menjalankan tanggung jawab ini tanpa merasa kasihan dengan tidak mempedulikan apakah orang tersebut mengerti atau tidak…. Penghentian kelahiran keturunan yang lemah jasmani atau cacat mental dalam waktu hanya 600 tahun akan berujung pada…perbaikan tingkat kesehatan manusia yang saat ini sulit diwujudkan. Jika tingkat kesuburan anggota paling sehat dari ras ini tercapai dan terencana, yang akan dihasilkan adalah suatu ras yang…telah kehilangan benih-benih cacat jasmani dan ruhani yang untuk saat sekarang masih kita bawa.49 Demi menjalankan kebijakan Hitler ini, penderita kelainan jiwa, orang cacat, orang buta sejak lahir, dan penderita penyakit genetis dalam masyarakat Jerman, dikurung dalam "pusat-pusat sterilisasi" khusus. Mereka dianggap parasit yang membahayakan kemurnian dan kelancaran perjalanan evolusi ras Jerman. Di kemudian hari, mereka yang dikucilkan dari masyarakat ini dibunuh melalui perintah rahasia Hitler. Pemenang medali emas Olimpiade 1936 di Berlin, Jesse Owens, tidak diberi ucapan selamat oleh Hitler hanya karena kulitnya hitam. Pembunuhan ini dikemukakan sebagai hal yang sama sekali beralasan dan mereka yang dianggap rendah secara genetis digambarkan sebagai manusia "tidak menguntungkan" yang menghalangi kemajuan bangsa. Sejumlah kelompok masyarakat, termasuk beragam ras dan suku bangsa tertentu, yang dianggap berkelas rendah lambat-laun mulai dijadikan sasaran. Selanjutnya, orang tua berpenyakit, pengidap penyakit kuning, penderita kelainan mental parah, tuli dan bisu, dan bahkan mereka yang berpenyakit parah dijadikan korban. Setelah atlit berkulit hitam Jesse Owens memenangkan empat medali emas di Olimpiade Berlin tahun 1936, Hitler, meskipun mengucapkan selamat kepada semua peserta lomba, menolak untuk mengucapkannya kepada Jesse Owens dan meninggalkan stadion. Sejumlah evolusionis bahkan mengemukakan pandangan bahwa secara evolusi wanita lebih rendah dari pria. Dr. Robert Wartenberg, yang kemudian menjadi profesor neurologi terkemuka di California, berusaha membuktikan hal tersebut dengan beralasan bahwa wanita tidak akan mampu bertahan hidup kecuali 'dilindungi oleh pria'. Ia menyimpulkan, oleh karena wanita yang lemah tersebut tidak tersisihkan dengan cepat akibat perlindungan ini, evolusi pun berjalan lambat, dan karenanya seleksi alam kurang berlaku pada wanita dibanding pada pria. Berdasarkan pemikiran ini, kaum wanita Jerman era Nazi secara terbuka dilarang memiliki jenis pekerjaan tertentu.50 Menyusul perkembangan Darwinisme dan gagasan eugenika di Jerman, "para ilmuwan ras" secara terbuka mendukung pembunuhan anggota atau bagian masyarakat yang tidak diinginkan dari penduduk Jerman. Salah satu ilmuwan ini, Adolf Jost, "mengeluarkan seruan dini bagi pembunuhan medis secara langsung dalam sebuah buku yang terbit pada tahun 1895, Das Recht auf den Tod (The Right to Death). Ia beralasan, "demi mewujudkan kesehatan masyarakat secara keseluruhan, negara wajib memikul tanggung jawab atas kematian individu-individunya." Adolf Jost adalah penasehat Adolf Hitler yang menampakkan diri di panggung politik selama hampir 30 tahun kemudian. "Negara wajib memastikan bahwa hanya individu sehat yang melahirkan anak," kata Hitler. "Negara harus menyatakan ketidaklayakan untuk memiliki keturunan bagi mereka yang terlihat berpenyakit atau yang menderita penyakit keturunan sehingga dapat mewariskan ke keturunannya."51 Menurut undang-undang yang dikeluarkan pada tahun 1933, 350.000 penderita cacat mental, 30.000 orang jipsi, dan ratusan anak berkulit hitam dimandulkan dengan cara pengebirian, penggunaan sinar X, penyuntikan, dan kejutan listrik pada alat kelamin. Seorang perwira Nazi berkata, "Sosialisme kebangsaan tidak lain hanyalah biologi terapan".52 Hitler mengumpulkan wanita-wanita berambut pirang dan bermata biru, dan menjaga agar mereka selalu bergaul dengan para perwira SS Nazi. Dengan cara ini ia bermimpi membangun ras paling unggul. Selain upaya percepatan pembangunan ras Jerman dengan cara membunuh dan menerapkan berbagai kebijakan kejam terhadap masyarakat tak berdosa, Hitler juga menerapkan hal lain yang diperlukan bagi eugenika. Pria dan wanita berambut pirang dan bermata biru, yang dianggap mewakili ras Jerman, dianjurkan untuk saling berhubungan dan melahirkan keturunan. Pada tahun 1935 ladang-ladang reproduksi khusus didirikan untuk tujuan tersebut. Ladang-ladang ini, di mana para wanita muda yang memenuhi persyaratan ras Jerman ditempatkan, seringkali dikunjungi oleh satuan pasukan SS Nazi. Bayi-bayi zina yang lahir di tempat tersebut dibesarkan agar kelak menjadi prajurit imperium Jerman yang diharapkan akan berusia 1.000 tahun. Pemurnian Ras Arya oleh Nazi PENYIMPANGAN RAS INDUK Para perwira Nazi, yang telah dididik dengan pemikiran evolusi, berusaha mencari ras induk dengan mengukur tempurung kepala, hidung dan dahi. Kaum Nazi kembali menggunaan pemikiran Darwinis untuk menyatakan tanpa bukti tentang keunggulan ras Arya. Darwin mengemukakan bahwa saat manusia sedang berevolusi, tengkorak mereka tumbuh membesar. Kaum Nazi sangat meyakini gagasan ini dan mulai melakukan pengukuran tengkorak untuk menunjukkan ras Jerman sebagai yang paling unggul. Di seluruh penjuru Jerman Nazi, pembandingan dilakukan demi membuktikan tengkorak Jerman lebih besar dibanding ras-ras lain. Gigi, mata, rambut, dan ciri tubuh lainnya diperiksa berdasarkan ketentuan evolusi. Mereka yang kedapatan tidak bersesuaian dengan ketentuan ras Jerman dibinasakan menurut kebijakan eugenika. Dan apabila ia berpaling (dari kamu), ia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, dan Allah tidak menyukai kebinasaan" (QS. Al-Baqarah, 2:205) Segala kekejaman ini dilaksanakan dalam rangka menerapkan prinsip Darwinis dalam masyarakat manusia. Sejarawan Amerika Michael Gordin, pengarang buku The Nazi Doctors and The Nuremberg Code, mengungkap kenyataan tersebut sebagai berikut: Saya pikir apa yang telah terjadi adalah adanya kesesuaian sempurna antara ideologi Nazi dan Darwinisme Sosial dan pemurnian ras saat terjadi perkembangan di peralihan abad ke-20.53 Perihal ini, George Stein menjelaskan: Sebagaimana Hitler, Heinrich Himmler, pemimpin Gestapo, serta para perwira Nazi lainnya berpandangan Darwinis, sehingga menjadikan mereka berpola pikir rasis dan bengis. Sosialisme kebangsaan, atau apapun namanya, pada intinya adalah usaha pertama kali yang dilakukan secara sadar untuk membangun masyarakat politik di atas landasan kebijakan biologis yang jelas: kebijakan biologis yang sejalan penuh dengan fakta ilmiah revolusi Darwin.54 Evolusionis terkenal Sir Arthur Keith berkata tentang Hitler sebagaimana berikut: Pemimpin Jerman adalah seorang evolusionis; ia telah dengan sadar menjadikan Jerman sejalan dengan teori evolusi.55 Pengarang buku Darwin: Before and After, Robert Clarke menyimpulkan bahwa Adolf Hitler: " … terpikat oleh pelajaran tentang evolusi - mungkin sejak ia masih anak-anak. Hitler beralasan…bahwa ras lebih unggul akan selalu menaklukkan ras lebih rendah."56 Filsafat politik Jerman Nazi terbentuk di bawah pengaruh gagasan Hitler ini. Pengarang buku Race and Reich, Joseph Tenenbaum mengemukakan filsafat politik Jerman dibangun di atas keyakinan bahwa yang diperlukan bagi perkembangan evolusi adalah: …perjuangan, seleksi, dan keberlangsungan hidup bagi yang terkuat, semua gagasan dan pemikiran dirumuskan … oleh Darwin … tetapi telah mulai tumbuh subur dalam filsafat sosial Jerman abad ke-19. … Sehingga memunculkan doktrin tentang hak alamiah Jerman untuk memerintah dunia berdasarkan kekuatan yang lebih unggul …imperium Jerman di atas bangsa-bangsa yang lebih lemah, sebagaimana hubungan "palu dan landasan tempa".57 Di antara para pemimpin Nazi, Adolf Hitler bukanlah satu-satunya yang melancarkan "peperangan evolusi ideologis". Heinrich Himmler, pemimpin Gestapo, "menyatakan hukum alam harus dibiarkan menjalankan perannya pada kelangsungan hidup bagi yang terkuat". Bahkan, seluruh pemimpin Nazi menaruh keyakinan kuat pada evolusi dan rasisme Jerman, sebagaimana kebanyakan para ilmuwan dan pengusaha Jerman selama tahun-tahun suram tersebut. Kebencian Hitler Terhadap Agama Alasan lain mengapa Hitler sangat menekankan pentingnya teori evolusi adalah karena ia memahami teori ini sebagai senjata melawan kepercayaan agama. Hitler memiliki kebenciaan mendalam terhadap agama-agama wahyu. Nilai moral seperti cinta, belas kasih, dan kerendahan hati, yang diajarkan agama, merupakan halangan besar bagi kemunculan sosok manusia Arya yang beringas dan ahli perang yang ingin diciptakan oleh kaum Nazi. Oleh karenanya, setelah Nazi meraih kekuasaan pada tahun 1933 mereka berusaha mengembalikan masyarakat Jerman kepada keyakinan paganisme mereka di masa lalu. Swastika, lambang yang berasal dari kebudayaan pagan kuno, adalah tanda kembalinya kebudayaan ini. Upacara Nazi yang diadakan di setiap penjuru tempat di Jerman adalah penghidupan kembali upacara keagamaan paganisme kuno. Jadi, tidaklah mengherankan bila ternyata gagasan evolusi, yang merupakan warisan kebudayaan paganisme, sangat bersesuaian dengan ideologi Nazisme. Hitler pernah mengungkapkan sikapnya terhadap agama Kristen saat ia menyatakan secara terbuka bahwa agama adalah suatu: … kebohongan terorganisir [yang] mesti dihancurkan. Negara harus tetap menjadi penguasa mutlak. Ketika masih muda, saya berpendapat tentang perlunya memulai [penghancuran agama] … dengan dinamit. Sejak itu saya menyadari pentingnya kehati-hatian dalam hal ini …Pada akhirnya… di kursi Kepausan di St. Peter, akan duduk seorang lelaki sangat tua dan lemah; dan sejumlah perempuan tua berwajah buruk yang mengelilinginya… Yang muda dan sehat adalah kami … Bangsa kita sebelumnya telah mampu hidup dengan baik tanpa agama ini. Saya mempunyai enam divisi pasukan SS yang sama sekali tidak mempedulikan ajaran agama.59 Swastika yang digunakan Hitler adalah lambang yang berasal dari kebudayaan pagan kuno. Daniel Gasman mengungkap alasan tentang kebencian Hitler terhadap agama dalam bukunya The Scientific Origins of National Socialism: Hitler menegaskan dan memberikan perhatian khusus kepada gagasan evolusi biologis sebagai senjata paling ampuh melawan agama tradisional dan ia berulang kali menyalahkan agama Kristen karena penentangannya terhadap pengajaran evolusi… Bagi Hitler, evolusi adalah simbul bagi ilmu pengetahuan modern dan peradaban.60 Sebenarnya, penyebab utama berbagai bencana dunia di abad ke-20 yang tak terhitung jumlahnya adalah perilaku manusia seperti Hitler dan kaum Nazi yang tidak beragama. Orang-orang yang mengingkari keberadaan Allah ini dan percaya bahwa manusia telah berevolusi menjadi binatang yang lebih maju dan berkembang, merasa dirinya tidak diawasi, dan tidak perlu bertanggung jawab kepada siapapun. Ketiadaan rasa takut kepada Allah dan hari kemudian menjadikan mereka melakukan kebiadaban dan kedzaliman tanpa batas; mereka membunuh jutaan orang tanpa belas kasih. Kesengsaraan dan penderitaan yang terjadi dalam masyarakat tak beragama dapat terlihat dengan jelas pada kasus Hitler. Dan tidak hanya Hitler: seperti yang akan kita lihat; Stalin, Mao, Pol Pot, Franco, Mussolini dan para tokoh lain yang telah menjadikan abad ke-20 bermandikan darah, adalah mereka yang sama sekali tidak mengenal agama. Sebuah pelajaran sudah sepatutnya diambil dari mimpi buruk ini, yang berpangkal dari pengingkaran terhadap agama. Pertemuan akbar Nazi menyerupai upacara-upacara pagan kuno. Sebaliknya, mereka yang takut kepada Allah dan hidup dalam naungan Alquran akan selalu membawa kedamaian, ketenangan, keamanan, kemakmuran, dan pencerahan bagi masyarakat. Manusia yang beriman kepada agama Allah tidak akan pernah mengusik kedamaian di belahan dunia manapun, sebaliknya mereka selalu menganjurkan kasih sayang, persahabatan, kesetiaan dan kerja sama. Hitler bertanggung jawab atas terbunuhnya jutaan manusia, dan jutaan lagi yang terlantar tanpa pertolongan dan tempat bernaung. Ideologi biadabnya didasarkan pada gagasan Darwin tentang ras unggul dan ras rendah. Dan ia tidak ragu-ragu untuk membunuh mereka yang dianggap berasal dari ras-ras rendah. Gambar-gambar ini memperlihatkan dengan sekilas penderitaan, ketakutan, kengerian, dan kesedihan yang ditimpakan Hitler dan mereka yang sepaham dengannya kepada umat manusia. Darwinisme, yang menjadi sumber utama mimpi buruk ini, masih terus menimbulkan penderitaan bagi manusia di seluruh penjuru dunia. Bencana Dasyat yang Ditimbulkan oleh Si Darwinis-Fasis Mussolini Sebagamana Hitler yang menentukan kebijakannya berdasarkan Darwinisme, rekan sezaman dan sekutunya Benito Mussolini juga berpijak pada pendapat dan konsep Darwinisme untuk membangun Italia di atas landasan imperialis dan Fasis. Mussolini adalah Darwinis tulen, yang meyakini kekerasan sebagai kekuatan pendorong dalam sejarah, dan bahwa peperangan mendorong terjadinya revolusi. Menurutnya, "Keengganan Inggris untuk turut berperang hanya membuktikan kemunduran evolusi imperium Inggris."61 Di bagian kepala majalah The People Of Italy (Il Popolo d'Italia), yang didirikannya dengan bantuan dana dari pemerintah Prancis, ia mencantumkan frase, "Seseorang yang memiliki besi juga akan memiliki roti." Dengan kata lain ia mengatakan kepada masyarakat bahwa agar dapat mengisi perut mereka, mereka perlu kekuatan untuk berperang. Mussolini menjadikan kapak sebagai lambang Fasisme dan Partai Fasis. Sebab kapak melambangkan peperangan, kekerasan, kematian, dan pembantaian. Perilaku Mussolini, yang agresif dan cenderung pada kekerasan sebagaimana Fasis lainnya, diulas dalam buku karya Denis Mack Smith. Dalam bukunya, Smith menyatakan bahwa salah satu yang sangat diyakini Mussolini adalah agresi, dan naluri dasarnya adalah cenderung kepada kekerasan.62 Seperti halnya para Darwinis-Fasis lainnya, kebijakan Mussolini yang cenderung menyukai perang, agresif, dan menindas menyebabkan banyak manusia terbantai, terlunta-lunta tanpa tempat tinggal dan keluarga, serta negara yang hancur lebur. Kekerasan dan penindasan yang dilakukan, oleh para Blackshirts (pasukan Berbaju Hitam), tidak hanya di negerinya sendiri, tapi juga di negara lain. Pada tahun 1935 ia menduduki Etopia, dan hingga tahun 1941 telah memusnahkan 15.000 orang. Ia dengan segera mendukung dan membenarkan pendudukannya atas Etiopia berdasarkan pandangan rasialis Darwinisme. Menurut Mussolini, orang-orang Etopia berkedudukan lebih rendah karena berasal dari ras hitam, dan diperintah oleh ras lebih unggul seperti bangsa Italia sudah sepatutnya menjadi kehormatan bagi mereka. Di sisi lain, ia melanjutkan penindasan terhadap kaum Muslimin sejak pendudukan Italia atas Libia pada tanggal 3 Oktober 1911, dan bahkan meningkatkan serangan yang ditujukan kepada umat Islam. Pendudukan tersebut berakhir dengan kematian Mussolini melalui kesepakatan yang dibuat pada tanggal 10 Februari 1947. Dalam rentang waktu ini, 1,5 juta kaum Muslimin meninggal dunia dan ratusan ribu lainnya terluka. Pasukan pembunuh bentukan Mussolini, the Blackshirts. Mussolini, yang terkenal dalam sejarah karena kekejaman dan penindasannya, menjelaskan Fasisme yang ia bela dan ia terapkan dalam sebuah pidato: Fasisme bukan lagi berarti pembebasan akan tetapi kedzaliman, bukan lagi sebagai pelindung negara tapi pengaman kepentingan individu.63 Seperti yang telah kita pahami dari apa yang terjadi pada masa Hitler dan Mussolini, Fasisme - di mana yang kuat dan kejam adalah yang benar dan paling unggul, di mana satu-satunya cara mencapai keberhasilan dan kemajuan adalah melalui keberingasan, penyerangan, kekerasan, dan peperangan - adalah penerapan gagasan Darwin tentang "Yang kuat hidup, yang lemah mati" dan mengakibatkan penderitaan jutaan manusia. Seorang anggota Parlemen yang berbicara menentang Mussolini diculik dan dibunuh di siang hari. Gambar di atas memperlihatkan pemindahan mayatnya dari hutan tempat di mana ia ditemukan dalam keadaan tak bernyawa. Franco dan Penindasan Rakyat Spanyol Satu lagi pemimpin berhaluan fasis yang menyebabkan abad ke-20 banjir darah adalah Franco. Ia membentuk gerakan "Falange" di Spanyol dengan dukungan para tokoh Darwinis Fasis, yakni Hitler dan Mussolini, dan menyebabkan terjadinya penderitaan dan penindasan bagi warga Spanyol. Franco menyeret rakyatnya kepada perang sipil, membangkitkan permusuhan atar saudara, bapak melawan anaknya. Selama perang sipil Spanyol, rata-rata 250 orang terbunuh setiap harinya di Madrid, 150 di Barcelona, dan 80 di Seville. Sejumlah hukuman mati dilakukan dengan menancapkan paku ke kepala. Pembantaian tanpa belas kasihan terjadi hampir di seluruh pelosok negeri. Misalnya, di desa kecil di kawasan pengunungan sebelah Utara Madrid, 31 warganya ditahan karena tidak memberikan suaranya pada Franco, dan 13 di antaranya diangkut keluar dari desa menggunakan truk dan dibunuh di pinggir jalan. Para fasis memasuki sebuah kota berpenduduk 11.000 jiwa dekat Seville, dan membunuh lebih dari 300 orang. Akibat kekejaman yang terus berlangsung seperti ini, 800.000 orang terbunuh dalam perang sipil ini, 200.000 lebih dihukum mati atas perintah Franco, dan jutaan orang lainnya terluka atau cacat. Franco Memberi Hitler Penduduk sebuah Desa secara Keseluruhan untuk melakukan uji senjata Pendukung paling utama Franco dalam perang sipil tersebut adalah Hitler dan Mussolini. Franco tidak begitu saja menerima dukungan sekutunya tanpa imbalan apapun. Ia membuat salah satu persetujuan paling biadab dan paling kejam dalam sejarah dengan menghadiahkan kota-kota kecil seperti Guernica kepada Nazi untuk dijadikan sasaran pengujian senjata baru mereka: Di pagi hari tanggal 5 Mei 1937, penduduk kota kecil Guernica terjaga dan kemudian menemui ajal akibat pesawat-pesawat pembom raksasa beserta berton-ton bomnya, begitulah keajaiban baru teknologi Nazi. Kota kecil tersebut telah dibiarkan oleh Franco untuk dijadikan tempat uji coba pesawat-pesawat Nazi.64 Peristiwa ini hanyalah salah satu akibat filsafat menyesatkan yang menganggap manusia sebagai binatang percobaan. Filsafat ini - yang menyebabkan ribuan orang mati hanya untuk dijadikan sarana uji coba kekuatan senjata dan yang menjadikan ribuan lainnya cacat, terluka dan tersiksa - masih hidup hingga sekarang dengan beragam penampakan yang berbeda. Hal ini akan terus berlanjut selama filsafat para Darwinis serta kedzaliman serupa, yang melihat manusia sebagai sejenis binatang dan perang sebagai jalan terbaik bagi kemajuan, senantiasa dipelihara agar tetap hidup. Tidak ada belas kasih, bahkan terhadap anak-anak sekalipun, dalam perang sipil Spanyol, di mana Franco adalah tokoh yang paling bertanggung jawab. Orang-orang dipaksa keluar dari rumah-rumah mereka tanpa alasan apapun dan ditembak mati. Rakyat tak berdosa mati terbunuh, cacat dan kehilangan keluarga serta orang yang mereka cintai. Ini semua adalah wujud kebiadaban kaum fasis dalam kehidupan sehari-hari. Peran Darwinisme dalam Mempersiapkan Perang Dunia Pertama dan Kedua Dalam bukunya Europe since 1870, Profesor sejarah terkenal asal Inggris James Joll menjelaskan salah satu penyebab pecahnya Perang Dunia Pertama adalah keyakinan para pemimpin Eropa saat itu terhadap pemikiran Darwinis: Kita telah melihat bagaimana gagasan Darwin sangat berpengaruh pada ideologi penjajahan di akhir abad ke-19, tapi penting untuk disadari bagaimana doktrin tentang perjuangan untuk bertahan hidup dan kelangsungan hidup bagi yang terkuat menjadi diyakini secara harfiah oleh sebagian besar pemimpin Eropa di tahun-tahun menjelang Perang Dunia Pertama. Misalnya, kepala staf angkatan bersenjata Austro-Hungaria, Franz Baron Conrad von Hoetzendorff, menulis dalam catatanya seusai perang tersebut: Agama yang menganjurkan kasih sayang, pengajaran akhlak, dan doktrin filosofis terkadang justru melemahkan perjuangan manusia untuk bertahan hidup hingga titik terendah, tapi semua ini takkan pernah berhasil menghilangkannya sebagai kekuatan pendorong di dunia … Sejalan dengan prinsip utama ini, bencana perang dunia terjadi sebagai akibat adanya kekuatan pendorong dalam kehidupan negara dan rakyat, seperti halilintar yang sesuai sifat alaminya harus melepaskan energinya sendiri. Dilihat dari latar belakang ideologis semacam ini, tuntutan Conrad tentang perlunya perang pencegahan demi mempertahankan kerajaan Austro-Hungaria dapat dipahami. Kita telah melihat pula bagaimana pandangan ini tidak hanya diyakini oleh para tokoh militer, dan Max Weber, misalnya, sanga terlibat dalam perjuangan untuk mempertahankan hidup dalam skala internasional. Ada lagi, Kurt Riezler, tangan kanan dan orang kepercayaan pribadi kanselir Jerman Theobald von Bethmann-Hollweg, pada tahun 1914 menulis: "Permusuhan yang abadi dan pasti pada dasarnya merupakan sifat bawaan yang telah ada dalam hubungan antar masyarakat; dan permusuhan yang kita saksikan di manapun... bukanlah akibat penyimpangan fitrah manusia akan tetapi itulah intisari (kehidupan) dunia dan sumber kehidupan itu sendiri.65 Friedrich von Bernhardi, seorang jenderal Perang Dunia Pertama dan penganut Darwinisme Sosial, tergolong pemimpin yang demikian pula. "Perang" menurutnya "adalah kebutuhan biologis"; ini "sama pentingnya dengan perjuangan oleh unsur-unsur alam lainnya"; perang "memberikan keputusan yang adil secara biologis", sebab keputusannya berpijak pada sifat paling mendasar dari segala sesuatu."66 Gambar halaman di sebelah kiri: pemandangan di London akibat pemboman pesawat tempur Jerman dalam Perang Dunia Kedua. Seperti yang telah kita lihat, Perang Dunia Pertama terjadi karena para pemikir, jenderal, dan pemimpin Eropa menganggap berperang, menumpahkan darah, mengalami penderitaan, serta menimpakan penderitaan sebagai satu bentuk "kemajuan" dan hukum alam yang tak berubah. Inspirasi ideologis yang menyeret seluruh masyarakat masa itu kepada kehancuran melalui gagasan yang sama sekali palsu ini tidak lain adalah teori Darwin tentang "perjuangan untuk mempertahankan hidup" dan "ras-ras pilihan". Dua tahun setelah Bernardi mengucapkan perkataan tersebut, Perang Dunia Pertama, yang bertujuan mendorong perkembangan biologis, dimulai (!). Perang ini menyebabkan 8 juta orang mati, ratusan kota hancur, serta jutaan korban lain yang terluka, cacat, tuna wisma, dan kehilangan pekerjaan. Sumber utama peperangan yang dilancarkan Nazi, yang terjadi 21 tahun setelahnya dan menelan sekitar 50 korban jiwa, juga berasal dari Darwinisme. Peperangan abad ke-20 menyebabkan kehancuran dasyat bagi umat manusia. Hitler seringkali menghubungkan kebijakan perang dan pembantaian etnis yang dilakukannya dengan Darwinisme. Ia melihat perang tidak sekedar untuk melenyapkan ras-ras lemah, tapi juga untuk menyingkirkan anggota-anggota lemah dari ras induk. Jerman Nazi memuja perang sebagiannya karena alasan tersebut, sebab dalam benak mereka perang merupakan satu tahapan sangat penting bagi kemajuan ras. Evolusionis A. E. Wiggam menjelaskan tentang "kepercayaan bahwa perang akan membuat manusia berkembang", sebagaimana yang menjadi dasar kebijakan Hitler, dalam buku yang terbit pada tahun 1922: … pada satu masa manusia memiliki otak sedikit lebih besar dibanding sepupu antropoidnya, yaitu kera. Tapi, dengan menendang, menggigit, berkelahi…dan mengalahkan musuh-musuh yang kurang pintar darinya, dan dengan kenyataan bahwa mereka yang tidak memiliki cukup kemampuan dan kekuatan untuk melakukannya akan binasa, maka otak manusia menjadi besar dan berkembang lebih baik dalam hal kearifan dan kecerdasan, jikalau tidak dalam hal ukuran…67 Hitler mendapatkan dukungan dari para evolusionis seperti Wiggam dan menganggap perang sebagai keharusan bagi mereka yang ingin tetap hidup. Ia menyatakan ini secara terbuka dalam Mein Kampf: Keseluruhan alam kehidupan adalah peperangan dasyat antara yang kuat dan yang lemah - dan kemenangan abadi ada pada pihak kuat atas pihak lemah. Bila tidak demikian, maka tiada sesuatupun kecuali kerusakan meliputi seluruh alam. Siapapun yang ingin hidup harus berjuang. Siapapun yang enggan berjuang di dunia ini, di mana perjuangan tanpa henti telah menjadi kaidah kehidupan, tidak berhak untuk tetap hidup. Untuk berpandangan di luar ini berarti "menghina" alam. Kesedihan, kesengsaraan, dan penyakit adalah balasan untuknya.68 Para Darwinis menyatakan bahwa yang kuat tetap bertahan setelah berjuang demi kelangsungan hidup, dan spesies yang dikembangkan melalui cara ini menjadi teradaptasikan ke masyarakat manusia. Dengan pandangan seperti ini, peperangan juga mulai dianggap sebagai keharusan demi kemajuan umat manusia. Misalnya, Hitler menganggap kehebatan Jerman bersumber pada pemusnahan warganya yang lemah melalui peperangan selama berabad-abad. Meskipun bangsa Jerman tidak asing dengan peperangan, pembenaran "ilmiah" baru merupakan dukungan terhadap kebijakan mereka yang suka perang. Di lain tempat, Hitler juga menyatakan, "Peradaban manusia sebagaimana kita saksikan tidak akan ada kalau bukan karena perang yang terus-menerus."69 Para diktator dan penguasa Darwinis, yang meyakini perang sebagai jalan menuju kemajuan umat manusia, menghempaskan abad ke-20 ke kubangan darah. Mereka menebar kerusakan ke seluruh penjuru dunia. Mengenai peperangan, Haeckel mengusulkan cara-cara biadab bangsa Sparta, salah satu negara kota yang membentuk Yunani kuno, harus dilaksanakan. Ia menulis, "dengan membunuh semuanya kecuali 'anak-anak sehat dan kuat' bangsa Spartan senantiasa dalam keadaan kuat dan prima."70 Perang dipandang sebagai "sesuatu yang sangat diperlukan untuk mengatur" populasi di seluruh Eropa, dan bukan hanya di Jerman. "Jika tidak dikarenakan peperangan", tulis tokoh Darwinis Sosial asal Jerman Friedrich Von Bernhardi, "kita mungkin akan mendapati ras rendah dan lemah mental menguasai mereka yang sehat dan bugar dengan kekayaan dan jumlah mereka. Pentingnya peperangan terletak pada kemampuannya mendorong terjadinya seleksi, karenanya peperangan menjadi keharusan biologis."71 Sebagaimana telah kita pahami sejauh ini, Hitler dan para penganut setia Nazi pendukungnya melihat perang sebagai sebuah keharusan berdasarkan inspirasi yang mereka peroleh dari Darwinisme. Dan dengan melaksanakan keharusan ini, mereka menimpakan berbagai penderitaan pada rakyaknya sendiri, dan pada masyarakat di negara lain. Dari sudut pandang ini, sungguh beralasan untuk mengatakan Charles Darwin sebagai salah seorang yang paling bertanggung jawab terhadap semua penderitaan yang terjadi dalam Perang Dunia Kedua. Perang di Seluruh Dunia PERANG VIETNAM Pasca Perang Vietnam, di mana lebih dari sejuta orang terbunuh atau terluka di kedua belah pihak yang bertikai, telah meninggalkan banyak orang menderita. Banyak dari orang ini disuruh berperang ribuan mil jauhnya dari tempat tinggal mereka. Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih. (QS. Asy Syuura, 42:42) Seorang bapak memperlihatkan kepada tentara Vietnam Selatan anaknya yang terbunuh saat tentara pemerintah memburu gerilyawan Viet Cong. BOSNIA AND KOSOVO Pengalaman pahit yang terjadi di Bosnia dan Kosovo hendaknya tidak dilupakan. Kurangnya kepedulian terhadap masyarakat tak berdosa yang dibunuh hanya karena mereka Muslim atau berasal dari suku atau ras yang berbeda sungguh memprihatinkan. Kegagalan mengulurkan bantuan, dan penindasan terhadap rakyat yang tak berdosa di jantung Eropa selama bertahun-tahun hanya mengungkapkan secara terbuka betapa moralitas dan rasa belas kasih telah sirna di kalangan masyarakat abad ke-20. PERANG KOREA Perang Korea, yang meletus antara tahun 1950 hingga 1953, membawa bencana bagi rakyat tak berdosa, orang tua dan anak-anak. Betapa manusia tumbuh menjadi sedemikian kejam hingga tega menghujani bom pada warga tak berdosa tanpa merasa kasihan. JAKARTA Selama kerusuhan Mei di Jakarta, kamar mayat dipenuhi oleh jenazah. Pada kerusuhan yang terjadi di negeri ini, sejumlah kota rusak berat dan mobil-mobil dibakar. IRLANDIA UTARAda Masyarakat hidup dalam ketakutan dan kemelaratan. Jalanan rusak akibat serangan teroris dalam perseteruan yang telah berlangsung puluhan tahun antara pasukan Inggris dan Tentara Republik Irlandia (IRA). Gambar paling atas memperlihatkan keadaan pada tahun 1972; sedangkan di samping pada tahun 1986. LIBERIA Kekerasan yang terjadi akibat pertikaian di dalam negeri. Professor Dr. Jerry Bergman menggambarkan pengaruh Darwinisme sehingga memunculkan Perang Dunia Kedua: Bukti yang ada sangatlah jelas bahwa gagasan Darwin berpengaruh besar pada pemikiran dan perilaku bangsa Jerman…Nyatanya, gagasan Darwin berpengaruh besar hingga menyebabkan Perang Dunia Kedua, hilangnya 40 juta jiwa, dan terbuangnya uang sekitar 6 milyar dolar. Merasa sangat yakin bahwa evolusi adalah benar, Hitler melihat dirinya sebagai juru selamat modern umat manusia… Dengan membiakkan ras unggul, dunia akan melihatnya sebagai tokoh yang mengangkat martabat kemanusiaan ke tingkat evolusi yang lebih tinggi.72 Sudah pasti bahwa peperangan yang tak terhitung jumlahnya telah terjadi di dunia ini sebelum Darwin mengemukakan teorinya. Tetapi akibat pengaruh teorinya, peperangan untuk pertama kalinya telah mendapatkan pembenaran dari ilmu pengetahuan. Max Nordau menggarisbawahi peran buruk Darwin dalam masalah perang dalam sebuah artikel berjudul The Philosophy and Morals of War, yang menimbulkan masalah di Amerika: Tokoh utama di atas semua para pendukung perang adalah Darwin. Sejak teori evolusi disebarkan, mereka menutupi kebiadaban alamiah mereka dengan mengatasnamakan Darwin dan mengemukakan dorongan naluri yang bersumber dari hati mereka yang terdalam ini sebagai kesimpulan ilmiah.73 Bukanlah kebetulan jika abad ke-20 harus menyaksikan peperangan paling berdarah yang pernah diketahui di dunia, yang terjadi setelah abad ke-19, dan yang sangat dipengaruhi oleh gagasan para pendukung utama materialisme seperti Darwin, Marx, dan Freud. Darwinisme telah menyediakan landasan berpijak teoritis dan 'ilmiah' yang berujung pada peperangan, dan para penguasa bengis, yang menganggap perang sebagai suatu keharusan bagi perkembangan dan kemajuan umat manusia, telah membunuh secara keseluruhan 60 juta manusia di kedua perang dunia tersebut. Neo-Nazi Meskipun para pemimpin fasis seperti Hitler dan Mussolini, dan organisasi Nazi yang memiliki hubungan dengan mereka (seperti SA, SS, Gestapo) atau pasukan "blackshirts" Mussolini kini hanya tampak sebagai sesuatu di masa lalu, organisasi Neo-Nazi yang mengikuti gagasan mereka masih hidup hingga sekarang. Di tahun-tahun belakangan ini khususnya, pergerakan rasis dan fasis mengalami kebangkitan kembali di banyak negara Eropa. Berdiri di barisan terdepan dari pergerakan ini adalah kaum Neo-Nazi di Jerman. Fasisme masih hidup hingga sekarang. Serangan dan kebrutalan kelompok Neo-Nazi, khususnya di Jerman, seringkali menjadi permasalahan serius. Para pengikut Neo-Nazi, yang memuji Darwin dalam situs internet mereka, memusuhi bangsa Turki. Neo-Nazi beranggotakan para preman pengangguran, pencandu narkoba, dan berandalan, dan mereka memiliki semua ciri mentalitas fasis. Sebuah artikel berita tentang Neo-Nazi menunjukkan betapa mereka mudah tergerak untuk melakukan tindak kekerasan dan menumpahkan darah: Darah, kehormatan, dan fanatisme….Untuk merangkum sifat para anggota perkumpulan the Fascist Olympia Group ini mungkin cukup hanya dalam tiga kata ini. Kini perkumpulan tersebut memiliki 35.000 anggota. Dan pada mata mereka dapat terlihat adanya keinginan kuat untuk bangkit. 74 Neo-Nazi telah terpengaruhi oleh pemahaman tentang Darwinis yang sama sebagaimana "pendahulu" mereka, yakni Hitler dan para pemimpin selainnya. Di situs-situs internet yang mereka buat untuk propaganda Nazi dan rasis, dapat ditemukan perkataan Darwin and pujian terhadapnya, karena Darwin memberikan dukungan kepada semua pergerakan dan pemikiran Neo-Nazi. Oleh karenanya di situs-situs ini, mereka mengemukakan Darwinisme sebagai teori yang wajib diterima tanpa merasa perlu bukti apapun. Penyerangan dan pembunuhan yang dilakukan oleh Neo-Nazi sungguh sangat biadab. Neo-Nazi merasakan kepuasan ketika membakar orang hingga mati, menakuti-nakuti mereka, dan menyiksa anak-anak kecil; dan bangsa Turki adalah salah satu sasaran utama mereka. Neo-Nazi menyatakan kebencian dan rasa permusuhan mereka terhadap bangsa Turki di banyak tempat dalam situs internet mereka, dan melampiaskan kebencian ini dengan perbuatan keji. Yang menjadi inspirasi bagi kebencian kaum Neo-Nazi terhadap bangsa Turki adalah sekali lagi Charles Darwin. Neo-Nazi yakin mereka mengemukakan penjelasan 'ilmiah' untuk membenarkan kebencian mereka terhadap bangsa Turki dengan mengambil inti sari pernyataan Darwin yang keliru dan tidak masuk akal tentang bangsa Turki. Pada halaman terakhir dari bab ini, anda dapat melihat beberapa situs internet Neo-Nazi yang menyanjung Darwin dan yang memperlihatkan sejumlah pernyataan mereka tentang bangsa Turki. Kekerasan Neo-Nazi terhadap bangsa Turki dan orang lain akhir-akhir ini cukup meningkat. Harian Turki Sabah edisi 12 Agustus 2000 memberikan daftar penyerangan oleh Neo-Nazi selama musim panas 2000: - Di bulan Juni, jendela Masjid El Rahman di kota Gera, negara bagian Thüringen, dirusak. - Dua bom molotov dilempar ke Masjid Turki di kota kecil Eppigen, negara bagian Baden-Württemberg. - Sebuah bom molotov dilempar ke Masjid Hijau di daerah Utersen, Pinneberg. - Bangunan yang dihuni orang-orang Turki dibakar di Memingen. - Di Bolcholt sebuah kafe Turki dan sebuah gedung yang dihuni orang-orang Lebanon dibakar. Empat Belas orang terluka, satu di antaranya serius. - Di kota Chemnitz, Jerman Timur, bayi berumur tujuh bulan dari keluarga berkebangsaan Irak dilempar keluar ke tanah. Muka bayi tersebut terluka ketika membentur beton. 76 Kaum Neo-Nazi melakukan serangan terhadap warga Turki di kota Möln pada tahun 1992 Terdapat sejumlah peristiwa yang jauh lebih mengenaskan lagi beberapa waktu yang lalu. Dengan menjadikan permusuhan Darwin terhadap bangsa Turki sebagai pedoman, Neo-Nazi mengatur dan melancarkan serangan terhadap warga Turki di Möln pada bulan Nopember 1992. Selanjutnya, di tahun 1993, lima warga Turki dibakar oleh orang-orang Neo-Nazi di Solingen.77 Media masa menggambarkan kejadian ini sebagai "Serangan rasis paling berdarah dalam sejarah Jerman sejak era Nazi." Serangan seperti ini sering terjadi di tahun-tahun setelahnya. Kebakaran menimpa rumah-rumah orang Turki, warga Turki dipukuli dan mengalami cedera. Selain di Jerman, penyerangan serupa terjadi pula di Belanda. Dalam suatu serangan yang ditujukan kepada warga Turki, seorang wanita beserta lima orang anaknya terbunuh. Orang-orang yang turut serta dalam pawai belasungkawa menerima surat ancaman yang diberi tanda swastika. Beberapa peristiwa ini hanya sebagian kecil dari serangan rasis yang ditujukan kepada warga Turki. Penyerangan dan pembunuhan oleh keompok fasis ini, yang merupakan generasi penerus Darwin dan Fasis seperti Hitler, masih terus berlanjut. Tindakan hukum tidak akan cukup untuk menghentikan serangan berkelompok yang biadab ini. Jalan yang tepat untuk menghentikan mereka adalah dengan melancarkan perang ideologis secara serius seiring dengan tindakan hukum. Kebiadaban yang dilakukan oleh orang-orang yang menganggap rasisme sebagai hukum alam tidak akan berhenti selama pemikiran Darwinis yang dianggap sebagai ilmu pengetahuan tidak dihancurkan. Stern (No: 40/1992) memberitakan: JERMAN DALAM KEJATUHAN Setiap hari terjadi serangan terhadap para kamp-kamp pengungsi dengan menggunakan batu dan bom api. Kebencian terhadap orang asing meningkat, dan terdapat kekhawatiran terhadap pemerintahan masa depan. Para politikus tidak mampu berbuat apapun. Dari luar negeri, pergerakan sayap kanan di Jerman dicermati dengan rasa was-was. Akan dibawa ke manakah negeri ini? Stern (No: 40/1992) memberitakan: Lagu yang dinyanyikan pendukung sayap kanan radikal menjadi musik mars yang membangkitkan tindakan kekerasan yang ditujukan kepada orang-orang asing. Kaum muda, yang semakin hari jumlahnya semakin bertambah, khususnya di negara-negara bagian Jerman yang baru, menjadi tergugah semangatnya oleh ritme musik agresif ini. ( Why Hay You )

Kamis, 30 Mei 2013

KONFLIK SOSIAL

Faktor – faktor penyebab konflik antara lain : • Perbedaan individu, yang meliputi perbedaan pendirian dan perasaan. • Perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk pribadi-pribadi yang berbeda pula. seseorang sedikit banyak akan terpengaruh dengan pola-pola pemikiran dan pendirian kelompoknya. • Perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok, diantaranya menyangkut bidang ekonomi, politik, dan sosial. • Perubahan-perubahan nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat. Menurut Dahrendorf, konflik dibedakan menjadi 4 macam : • konflik antara atau dalam peran sosial (intrapribadi), misalnya antara peranan-peranan dalam keluarga atau profesi (konflik peran (role) • konflik antara kelompok-kelompok sosial (antar keluarga, antar gank). • konflik kelompok terorganisir dan tidak terorganisir (polisi melawan massa). • konflik antar satuan nasional (kampanye, perang saudara). Hasil dari sebuah konflik adalah sebagai berikut : Meningkatkan solidaritas sesama anggota kelompok (ingroup) yang mengalami konflik dengan kelompok lain. 1. keretakan hubungan antar kelompok yang bertikai. 2. perubahan kepribadian pada individu, misalnya timbulnya rasa dendam, benci, saling curiga dll. 3. kerusakan harta benda dan hilangnya jiwa manusia. 4. dominasi bahkan penaklukan salah satu pihak yang terlibat dalam konflik.